Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pergeseran paradigma hubungan Eropa dan Afrika dengan menekankan penguatan kedaulatan ekonomi melalui jalur investasi. Penegasan tersebut disampaikan Macron saat melakukan kunjungan kerja di Universitas Nairobi, Kenya, pada Senin (11/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Macron menilai pola komunikasi masa lalu yang cenderung menggurui sudah tidak lagi relevan bagi perkembangan benua tersebut saat ini. Ia mengakui adanya keterbatasan sumber daya bagi pihak Eropa untuk terus memberikan arahan kepada negara-negara di Afrika.
"Afrika tidak lagi butuh atau ingin mendengar ceramah (dari Eropa). Dan sejujurnya, kami pun sudah tidak memiliki sumber daya untuk terus melakukan itu," ujar Macron, Presiden Prancis.
Meskipun pemimpin Prancis ini tetap mengecam praktik kolonialisme masa lalu, ia mengingatkan agar persoalan masa kini tidak melulu disalahkan pada sejarah lama. Macron mendorong para pemimpin setempat untuk bertanggung jawab atas tata kelola pemerintahan sejak masa kemerdekaan puluhan tahun silam.
"Kita tidak boleh membebaskan tanggung jawab atas tujuh dekade yang telah berlalu sejak kemerdekaan," tegas Macron, Presiden Prancis.
Dalam kesempatan wawancara terpisah, Macron membela peran Eropa di tengah persaingan global yang melibatkan aktor besar lainnya. Ia menepis anggapan bahwa Eropa bertindak sebagai predator ekonomi dan mengeklaim pihaknya tetap mendukung perdagangan bebas yang adil.
Sebaliknya, Macron mengkritik keras praktik pengelolaan mineral kritis oleh China yang dinilainya menciptakan ketergantungan global. Selain itu, ia menyoroti penarikan pasukan militer Prancis dari wilayah Sahel sebagai respons logis atas situasi politik di sana.
"Saat kehadiran kami tidak lagi diinginkan setelah kudeta, kami pergi. Itu bukan sebuah penghinaan, melainkan respons logis terhadap situasi yang ada," jelas Macron, Presiden Prancis.
Saat ini, hubungan diplomatik Prancis dengan benua Afrika tengah berada dalam masa transisi signifikan. Gelombang sentimen anti-Prancis di Afrika Barat dan Tengah memaksa Paris merancang ulang strategi diplomasinya agar tetap relevan di tengah meluasnya pengaruh China dan Rusia.