Dominasi tenaga kerja konstruksi asal Pulau Jawa di berbagai wilayah Indonesia dipengaruhi oleh faktor populasi yang besar, perkembangan budaya turun-temurun, serta sejarah pendidikan teknik formal sejak masa kolonial, seperti dilansir dari Kompas pada Sabtu (16/05/2026).
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Taufik Widjoyono, menjelaskan bahwa pekerja dari Jawa telah mendominasi sektor ini sejak era kerajaan saat pembangunan Candi Borobudur dan Candi Prambanan, hingga masa kolonial untuk proyek infrastruktur besar.
"Menurut pandangan saya pribadi, tenaga konstruksi asal Jawa memang mayoritas. Pertama karena populasinya paling banyak," kata Taufik Widjoyono, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Taufik menambahkan bahwa keahlian para pekerja ini berkembang melalui lingkungan sosial dan komunitas warga yang diturunkan dari generasi ke generasi, dengan beberapa daerah memiliki spesialisasi keahlian tertentu seperti pertukangan batu hingga ukiran.
"Mereka dibawa oleh lingkungannya. Sama seperti komunitas tukang cukur yang biasanya berasal dari Garut. Ini terbentuk dari komunitas warga," ujar Taufik Widjoyono, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Kondisi geografis menunjukkan wilayah Yogyakarta mahir dalam pengukuran, Wonosobo dan Wonogiri dalam bidang tukang batu, sedangkan Sumedang serta Priangan Timur unggul pada pemasangan keramik.
"Tenaga kerja konstruksi memang tidak bisa dilepaskan dari sistem sosial dan budaya setempat," lanjut Taufik Widjoyono, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Selain faktor kultural, kehadiran institusi pendidikan teknik sipil pertama seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1938 turut memperluas kemampuan pekerja asal Jawa untuk menangani proyek dengan kompleksitas tinggi.
"Jadi bukan hanya karena faktor budaya, tapi juga karena pendidikan formal teknik memang dimulai dari Jawa," ujar Taufik Widjoyono, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Etos kerja yang ulet dan serba bisa dari para pekerja tersebut juga dibentuk oleh tekanan sosial ekonomi yang ketat selama masa penjajahan hingga era Orde Lama.