Akses jalan warga di Kampung Kebon Manggis, Kelurahan Paledang, Kota Bogor, mengalami longsor pada Kamis (30/4/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Peristiwa ini mengancam keberadaan enam bangunan di sekitarnya setelah hujan deras memicu labilnya kondisi tanah yang sebelumnya sudah mengalami keretakan.
Bencana ini dilaporkan memiliki ketinggian longsoran mencapai 25 meter dengan lebar sekitar 120 meter. Dilansir dari Megapolitan, material longsoran menutup toilet umum yang berlokasi di tepian Sungai Cipakancilan tepat di bawah area jalan tersebut.
Dampak kerusakan mencakup lima unit rumah tinggal dan satu gedung madrasah yang kini dalam posisi terancam roboh jika terjadi longsor susulan. Warga setempat sebelumnya telah berupaya memperbaiki retakan jalan secara swadaya, namun intensitas hujan tinggi pada Rabu sore memperburuk keadaan.
Warga bernama Aas menjelaskan bahwa kerusakan awal berupa retakan kecil sebenarnya sudah berusaha ditangani secara mandiri melalui kerja bakti.
"Awalnya memang jalannya sudah retak-retak, sama warga sudah ditambal, ternyata pas kemarin retak lagi ditimpa air hujan pas kemarin sore," kata Aas.
Meski menyadari adanya kerusakan, warga tidak melaporkan kondisi tersebut ke pihak kelurahan karena menganggap penambalan semen sudah cukup memadai.
"Karena udah dipelester, udah dikerjabaktiin, dikira enggak bakal ambruk. Belum laporan lagi ke kelurahan karena retaknya enggak terlalu gede, dikira enggak langsung bablas," tutur Aas.
Saat kejadian berlangsung pada dini hari, Aas mengaku terbangun akibat suara gemuruh yang berasal dari pergeseran tanah di luar rumahnya.
"Langsung bruk gitu aja, awalnya retak-retak gitu suaranya, langsung bruk. Keras suaranya, jadi enggak bisa tidur langsung ngabarin warga hati-hati gitu," ujar Aas.
Aas juga mengungkapkan kekhawatirannya selama ini terkait beban kendaraan bermotor yang melintasi jalur yang sudah retak tersebut.
"Aturan kan ini jalan hidup anak sekolah apa juga lewat sini semua, motor lewat sini. Lagian motor pada lewat sini udah retak-retak teh enggak bisa lewat," tambah Aas.
Ia seringkali memberikan peringatan kepada pengendara yang melintas, namun hal itu kerap diabaikan terutama pada waktu malam hari.
"Padahal Ibu suka marah-marah jagain 'jangan lewat sini jangan lewat sini' tapi malam-malam kadang mah gitu motor," lanjut Aas.
Warga lainnya, Ilyas, menduga air hujan yang masuk ke dalam rongga tanah menjadi penyebab utama amblesnya struktur jalan tersebut.
"Emang udah pada retak, ditambal lagi, ada air yang masuk ke bawah makin gede, sedangkan bawahnya kosong," kata Ilyas.
Pria lanjut usia tersebut sempat dievakuasi oleh tetangganya sesaat sebelum tanah benar-benar mengalami longsoran besar.
"Lagi tidur, ada yang bangunin, 'abah bangun abah mau longsor' Keluar belum ambruk, saya nongkrong di depan terus pas mau longsor saya lari bareng warga yang di situ," ujar Ilyas.
Akibat putusnya jalur utama ini, mobilitas warga menjadi terhambat dan harus menggunakan jalur alternatif melalui Jalan Paledang atau area Lebaksari. Hingga saat ini, dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, sementara beberapa warga mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman.