Momen libur panjang dalam rangka perayaan Waisak tahun 2026 ternyata tidak memberikan lonjakan signifikan bagi industri perhotelan di Yogyakarta. Meskipun terdapat waktu libur yang cukup lama, angka pemesanan kamar hotel di wilayah tersebut terpantau masih berjalan di tempat.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkapkan bahwa tingkat keterisian atau okupansi hotel belum memenuhi target yang ditetapkan. Tren reservasi yang masuk untuk periode libur akhir Mei hingga awal Juni ini cenderung stabil tanpa kenaikan yang berarti.
Data Okupansi Hotel Selama Periode Libur Waisak
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, memaparkan rincian data pemesanan kamar yang diterima pihaknya selama beberapa hari terakhir. Pada tanggal 27 hingga 28 Mei 2026, persentase keterisian kamar hotel hanya berada di angka 30 hingga 40 persen saja.
Memasuki periode akhir pekan pada 29 hingga 31 Mei, jumlah pesanan memang mulai merangkak naik. Namun, kenaikan tersebut hanya berkisar antara 45 persen hingga maksimal 60 persen dari total kapasitas kamar yang tersedia.
Berikut adalah ringkasan persentase reservasi hotel di wilayah DIY menurut data PHRI :
| Periode Tanggal | Estimasi Okupansi | Keterangan |
|---|---|---|
| 27 - 28 Mei 2026 | 30% - 40% | Tingkat hunian masih rendah |
| 29 - 31 Mei 2026 | 45% - 60% | Mulai ada kenaikan reservasi |
| 30 Mei 2026 | Sekitar 60% | Prediksi puncak kunjungan |
| 1 Juni 2026 | Sekitar 30% | Arus balik mulai terjadi |
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan tipis menjelang akhir pekan, angka tersebut masih jauh dari kapasitas penuh. Kondisi ini menggambarkan bahwa animo masyarakat untuk menginap belum kembali maksimal.
Analisis Penyebab dan Wilayah Terpopuler
Deddy menilai situasi saat ini cenderung stagnan jika disandingkan dengan pengalaman libur panjang pada awal Mei lalu. Target okupansi yang semula dipasang di angka 85 persen nyatanya hanya mampu menyentuh realisasi sekitar 75 hingga 80 persen pada periode sebelumnya.
Penurunan daya beli masyarakat ditengarai menjadi pemicu utama lesunya minat berwisata dan menginap di hotel saat ini. Hal tersebut berdampak langsung pada keputusan calon wisatawan untuk menunda perjalanan atau memilih akomodasi yang lebih hemat.
Beberapa wilayah di Yogyakarta yang masih menjadi favorit wisatawan antara lain :
- Kawasan Malioboro: Area pusat kota ini masih mencatatkan angka reservasi tertinggi mencapai 80 persen.
- Kota Yogyakarta: Secara umum wilayah kota tetap menjadi pilihan utama para pelancong.
- Kabupaten Sleman: Wilayah ini menyusul sebagai destinasi penginapan kedua yang paling banyak dicari.
Pihak PHRI DIY mencatat bahwa kawasan ring satu atau pusat kota tetap menjadi primadona utama di tengah kondisi pasar yang sedang lesu. Meskipun secara keseluruhan stagnan, kawasan Malioboro tetap memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan yang datang.
Puncak kunjungan diperkirakan jatuh pada hari Sabtu, 30 Mei, sebelum akhirnya melandai kembali pada tanggal 1 Juni. Pada hari Senin tersebut, diperkirakan para tamu sudah mulai melakukan perjalanan pulang sehingga angka reservasi kembali turun ke level 30 persen.