Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menegaskan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) harus menjadi alat perluasan hak dan keadilan sosial pada kegiatan EQUAL Summit di Jakarta Timur, Senin (25/5). Penerapan teknologi baru ini diharapkan tidak melahirkan bentuk diskriminasi baru terhadap kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, dilansir dari Media Indonesia.
Lestari menilai perkembangan AI merupakan bagian dari perubahan besar peradaban manusia yang berpotensi memperlebar kesenjangan sosial bila tidak dikelola secara inklusif. Konstitusi telah memberikan mandat jelas bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa harus mencakup seluruh warga negara tanpa terkecuali.
"Teknologi yang paling maju bukanlah teknologi yang menggantikan manusia, tetapi teknologi yang membuat manusia semakin terlihat di mata dunia," ujar Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.
Lestari mengingatkan bahwa diskriminasi lama berpotensi hidup kembali dalam teknologi baru melalui sistem digital, algoritma, maupun keterbatasan akses. Mantan jurnalis ini meminta seluruh pemangku kepentingan memastikan transformasi digital Indonesia tidak menciptakan ketimpangan sosial baru.
"Bangsa itu bukan hanya mereka yang dianggap sempurna secara fisik, tetapi semua warga negara," kata Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.
Lestari juga menyoroti adanya kesenjangan antara data resmi pemerintah dan kondisi riil di lapangan mengenai jumlah penyandang disabilitas. Pengembangan teknologi dan AI didorong untuk membangun sistem data yang lebih terintegrasi demi ketepatan intervensi kebijakan.
"Jangan bangun Indonesia digital yang timpang secara sosial," tegas Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.
Dalam konteks kebangsaan, nilai-nilai Pancasila khususnya sila kedua dan kelima harus menjadi kompas pengembangan AI agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan.
"AI yang pantas adalah AI yang berpihak kepada manusia, membuka akses, mengakui keberagaman, dan memastikan keadilan sosial," ujarnya Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.
Sementara itu, Founder Alunjiva Nicky Clara menyatakan bahwa perkembangan AI dan transformasi digital harus diiringi peningkatan literasi digital yang inklusif. Akses terhadap pengembangan kapasitas teknologi saat ini dinilai belum sepenuhnya merata bagi pemuda, penyandang disabilitas, dan pelaku UMKM.
"Teknologi AI tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga membuka berbagai peluang baru dalam pengembangan inovasi, peningkatan keterampilan, serta penciptaan model pekerjaan dan kewirausahaan berbasis digital," kata Nicky Clara, Founder Alunjiva.
Nicky menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi hal penting untuk memperkuat ekosistem pengembangan teknologi yang inklusif di Indonesia.
"Kolaborasi lintas sektor menjadi penting untuk memperkuat ekosistem pengembangan teknologi yang inklusif, memperluas akses pembelajaran, serta memastikan bahwa transformasi digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Nicky Clara, Founder Alunjiva.
Program pelatihan AI yang dijalankan Alunjiva Indonesia bersama Microsoft Indonesia tercatat telah menjangkau lebih dari 100 ribu penerima manfaat. Dari total tersebut, terdapat lebih dari 15 ribu peserta yang berhasil memperoleh sertifikasi kompetensi AI.