Lansia Hadapi Risiko Dehidrasi Akibat El Nino Godzilla di Jakarta

Lansia Hadapi Risiko Dehidrasi Akibat El Nino Godzilla di Jakarta
Foto: Ilustrasi Lansia Hadapi Risiko Dehidrasi Akibat El Nino Godzilla di Jakarta.

Fenomena cuaca El Nino Godzilla yang melanda Jakarta pada Jumat (17/4/2026) memicu risiko dehidrasi berat hingga kematian pada kelompok lanjut usia (lansia) akibat penurunan mekanisme rasa haus yang drastis. Kondisi ekstrem ini diprediksi akan terus berlangsung hingga September 2026 mendatang.

Penurunan fungsi tubuh pada lansia membuat mereka sering kali tidak menyadari bahwa tubuh sedang membutuhkan cairan, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Praktisi kesehatan masyarakat dr Ngabila Salama menjelaskan bahwa selain penurunan rasa haus, fungsi jantung dan regulasi suhu tubuh lansia juga sudah melemah.

"Mekanisme haus menurun membuat sering tidak sadar sudah dehidrasi. Sering punya penyakit kronis (hipertensi, diabetes, jantung, paru)," kata Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Kondisi medis ini diperparah dengan paparan panas menyengat yang dapat memicu gangguan kesehatan fatal secara cepat. Ngabila memberikan penekanan bahwa ancaman utama bagi lansia bukan sekadar rasa panas pada kulit, melainkan kegagalan organ dalam.

"Yang paling berbahaya bukan sekadar ÔÇÿkepanasanÔÇÖ, tapi ini: dehidrasi berat, heat exhaustion, heat stroke (bisa fatal, bahkan meninggal)," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Selain ancaman langsung dari suhu tinggi, ketidakstabilan kondisi fisik dapat memicu komplikasi pada penyakit bawaan yang sudah ada. Gejala yang umum muncul meliputi pusing, kulit kering, hingga penurunan kesadaran atau kebingungan pada lansia.

"Serangan jantung atau stroke bisa meningkat, tekanan darah tidak stabil, gula darah bisa kacau," kata Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Upaya pencegahan harus dilakukan dengan tidak menunggu munculnya rasa haus sebelum mengonsumsi air putih secara rutin. Ngabila menyarankan agar konsumsi air mencapai target tertentu setiap harinya untuk menjaga hidrasi tetap optimal.

"Minum teratur, bukan nunggu haus. Target kurang lebih 2ÔÇô3 liter per hari," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Kualitas urine juga menjadi indikator penting dalam memantau kecukupan cairan tubuh di tengah cuaca panas. Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap perubahan warna urine yang menjadi lebih pekat.

"Pantau urine, kalau pekat berarti kurang minum," kata Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengonfirmasi bahwa lansia merupakan kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan suhu ekstrem ini. Peningkatan suhu udara di ibu kota secara langsung memperberat kerja organ paru dan jantung.

"Suhu yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru," ujar Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo turut menyoroti ancaman lain berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang sering menyertai musim kemarau panjang. Pihak pemerintah provinsi kini memfokuskan perhatian pada aspek kesehatan warga.

"Yang kedua adalah masalah kesehatan, terutama yang berkaitan dengan ISPA," kata Pramono Anung Wibowo, Gubernur DKI Jakarta.

Berdasarkan data medis, penurunan kualitas udara akibat debu dan polusi yang pekat selama El Nino meningkatkan risiko pneumonia. Ngabila menutup dengan peringatan bahwa gangguan pernapasan pada kelompok usia lanjut memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi.

"ISPA lebih mudah terjadi dan lebih berat, risiko pneumonia meningkat," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.

Artikel terkait

Rekomendasi