Laba Penjaminan Konvensional Turun 27,83 Persen Akibat Beban Operasional

Laba Penjaminan Konvensional Turun 27,83 Persen Akibat Beban Operasional
Foto: Ilustrasi Laba Penjaminan Konvensional Turun 27,83 Persen Akibat Beban Operasional.

Kinerja industri penjaminan konvensional di Indonesia mengalami tekanan yang cukup berat sepanjang tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya penurunan keuntungan yang signifikan pada sektor tersebut.

Dilansir dari Investortrust, laba bersih industri penjaminan konvensional merosot sebesar 27,83% secara tahunan atau year on year (yoy). Jumlah keuntungan yang dibukukan menyusut hingga menyentuh angka Rp 968,24 miIiar.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengungkapkan, penurunan laba tersebut disebabkan oleh beberapa faktor utama.

"Penurunan laba industri penjaminan konvensional pada 2025 antara lain dipengaruhi oleh penurunan imbal jasa penjaminan, seiring dengan menurunnya volume penjaminan," ujarnya dalam jawaban tertulis, dikutip Rabu (25/3/2026).

"Selain itu, terdapat peningkatan beban operasional, termasuk biaya SDM (sumber daya manusia) dan klaim, yang turut menekan kinerja laba industri," sambung Ogi.

Meskipun kinerja keuangan pada tahun lalu mengalami koreksi, otoritas memproyeksikan adanya pemulihan pada tahun 2026. Perbaikan performa ini diharapkan dapat terwujud melalui sejumlah langkah taktis yang dijalankan pelaku usaha.

"Ke depan, pada 2026 kinerja laba industri penjaminan diharapkan dapat membaik seiring dengan upaya peningkatan volume penjaminan, penguatan kualitas analisis penjaminan, serta optimalisasi pengelolaan risiko dan penagihan subrogasi," kata Ogi.

Kendati menunjukkan sikap optimistis, regulator mengingatkan agar para pelaku industri tetap waspada. Dinamika situasi ekonomi makro serta pergerakan faktor eksternal lainnya dinilai akan sangat memengaruhi proses pemulihan performa sepanjang tahun ini.

"Perkembangan kinerja tersebut tetap perlu dicermati dengan mempertimbangkan dinamika kondisi ekonomi dan faktor eksternal lainnya," ucap Ogi.

Artikel terkait

Rekomendasi