Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan tidak ikut serta dalam unjuk rasa di depan Gedung DPR RI yang mengakibatkan penangkapan 101 orang oleh polisi pada Jumat (1/5/2026). Massa di bawah koordinasi KSPI dilaporkan fokus mengikuti peringatan Hari Buruh Internasional secara terpusat di Monas.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden KSPI, Kahar S Cahyono, untuk mengklarifikasi posisi organisasi terkait insiden di luar kawasan Monumen Nasional. Dilansir dari Megapolitan, KSPI memastikan bahwa seluruh anggotanya diarahkan untuk menyampaikan aspirasi secara damai di lokasi yang telah ditentukan bersama Presiden Prabowo Subianto.
"Kami KSPI hanya di Monas. Jadi kami tidak paham dengan aksi di luar Monas," ujar Kahar, Wakil Presiden KSPI.
Kahar menambahkan bahwa kegiatan di Monas dikemas sebagai perayaan yang juga dihadiri oleh pimpinan negara. Hal ini mempertegas bahwa keterlibatan massa di lokasi lain merupakan di luar pengetahuan dan instruksi organisasi.
"Hingga saat ini dari KSPI tidak ada," ujar Kahar memastikan tidak ada anggotanya yang termasuk dalam daftar 101 orang yang diamankan polisi.
Pihak kepolisian sebelumnya mengamankan 101 orang dalam aksi di Gedung DPR/MPR RI karena dinilai mengganggu ketertiban. Mayoritas dari mereka yang diamankan diketahui berasal dari luar wilayah Jakarta dengan rentang usia produktif antara 20 hingga 35 tahun.
"Karena mereka sebagian besar itu berasal dari luar Jakarta, sehingga kami juga berupaya menghubungi pihak keluarga dari mereka untuk menjemput," kata Kombes Pol Iman Imanuddin, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Polda Metro Jaya saat ini masih melakukan pendalaman terkait latar belakang kelompok tersebut. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa massa tersebut datang secara sporadis dan belum terindikasi masuk dalam kelompok yang terstruktur.
"Terkait hal terstruktur atau terlatih, kami masih melakukan pendalaman. Karena keterangan awal mereka memang merupakan kelompok-kelompok parsial yang mereka datang secara sporadis," ucap Iman.
Penyelidikan polisi juga diarahkan untuk mencari tahu apakah ada pihak tertentu yang menggerakkan atau mendanai kedatangan massa dari luar daerah tersebut ke ibu kota.
"Terkait dengan tokoh intelektual, tentunya kami tidak berhenti sampai di sini untuk melakukan pendalaman. Ini kami akan lakukan pendalaman mengenai sumber daripada pendanaannya," tutur Iman.
Hingga saat ini, 101 orang tersebut masih berada di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut guna mengungkap jaringan di balik aksi tersebut.