Stabilitas politik di Inggris kembali menghadapi ujian berat setelah munculnya gejolak internal di dalam tubuh Partai Buruh yang sedang berkuasa. Kondisi ini memperpanjang tren ketidakpastian di negara tersebut, yang telah mencatat pergantian enam perdana menteri dalam satu dekade terakhir pasca-Brexit.
Tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer melonjak tajam setelah seorang pejabat penting dalam pemerintahan memutuskan untuk mengundurkan diri pekan ini. Dilansir dari Internasional, pengunduran diri tersebut disertai dengan tudingan bahwa Starmer tidak memiliki visi kepemimpinan yang cukup jelas untuk memimpin negara.
Situasi semakin rumit karena sejumlah tokoh di dalam partai mulai melakukan manuver politik guna mempersiapkan diri dalam kemungkinan perebutan kursi kepemimpinan. Keir Starmer sendiri telah menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan di posisinya saat ini sebagai perdana menteri.
Meskipun demikian, Starmer menyatakan tidak akan menghalangi langkah Burnham apabila tokoh tersebut memutuskan untuk maju ke parlemen. Langkah menuju parlemen merupakan syarat mutlak bagi Burnham jika ingin mencalonkan diri sebagai pimpinan Partai Buruh di masa depan.
Di sisi lain, mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting yang telah mundur dari kabinet juga disebut memiliki peluang besar untuk menjadi penantang Starmer. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Streeting masih memantau kepastian langkah politik Burnham sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.
Ketegangan politik domestik ini berisiko menyebabkan kelumpuhan pemerintahan selama berminggu-minggu. Padahal, Inggris saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Iran dan Ukraina.
Krisis di London ini bahkan memicu reaksi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberikan kritik pedas terkait kebijakan imigrasi dan energi di Inggris.
"Ini situasi yang sulit kecuali dia bisa membereskan masalah imigrasi dan mulai meningkatkan pengeboran energi," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Walaupun melontarkan kritik, Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan permintaan secara langsung agar Starmer melepaskan jabatannya. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada sektor finansial Inggris yang mulai menunjukkan pergerakan negatif.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Inggris untuk tenor 30 tahun meroket hingga ke level 5,845 persen, yang merupakan titik tertinggi sejak tahun 1998. Lonjakan yield ini menjadi indikator bahwa investor mengharapkan premi risiko yang lebih tinggi untuk menyimpan aset surat utang Inggris.
Kondisi serupa terjadi pada yield obligasi tenor 10 tahun yang menyentuh level tertingginya sejak krisis keuangan global tahun 2008. Mata uang Poundsterling juga dilaporkan melemah sekitar 2 persen terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir, mencapai titik terendahnya dalam lima minggu.
Sektor perbankan turut terdampak dengan penurunan saham Barclays dan Lloyds sebesar 3 persen, sementara indeks saham Inggris secara keseluruhan terkoreksi 1,7 persen. Pasar modal menyatakan kekhawatiran jika faksi sayap kiri di Partai Buruh menjadi lebih dominan dalam kebijakan negara.
Tokoh-tokoh seperti Burnham dan Angela Rayner dikenal sebagai pendukung peran negara yang lebih luas pada sektor strategis serta peningkatan pajak untuk belanja publik. Namun, upaya Burnham untuk masuk ke parlemen diprediksi tidak akan berjalan dengan mudah.
Sebagai mantan menteri di era Gordon Brown, Burnham harus memenangkan pencalonan Partai Buruh untuk kursi parlemen yang sedang kosong. Ia juga harus bersaing ketat dengan partai populis Reform UK yang dipimpin Nigel Farage serta Partai Hijau dalam pemilihan sela mendatang.
Tantangan tersebut kian berat karena hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Partai Buruh terus mengalami penurunan. Sebaliknya, Reform UK menunjukkan performa kuat setelah berhasil memenangkan pemilu lokal di beberapa wilayah yang sebelumnya merupakan basis suara Partai Buruh.
Loyalis pemerintah kini mendesak agar internal Partai Buruh segera mengakhiri konflik dan kembali fokus pada urusan pemerintahan. Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, menekankan pentingnya bagi partai untuk memprioritaskan kepentingan publik setelah melewati masa sulit tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kandidat resmi yang mengantongi dukungan minimum untuk memulai proses pemilihan pimpinan baru. Namun, pelaku pasar finansial mulai mengantisipasi kemungkinan pergantian kepemimpinan yang diprediksi akan memperpanjang masa ketidakpastian ekonomi di Inggris.