Krisis Komunikasi Internal Iran Hambat Negosiasi Nuklir dengan AS

Krisis Komunikasi Internal Iran Hambat Negosiasi Nuklir dengan AS
Foto: Ilustrasi Krisis Komunikasi Internal Iran Hambat Negosiasi Nuklir dengan AS.

Disfungsi kepemimpinan yang parah dilaporkan tengah melanda pemerintahan Iran di tengah upaya Amerika Serikat merampungkan kesepakatan nuklir. Kondisi ini dipicu oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang mengisolasi diri di lokasi rahasia dan hanya berkomunikasi melalui kurir fisik.

Masalah internal tersebut berdampak langsung pada lambatnya perkembangan diplomasi kedua negara. Berdasarkan laporan CBS News yang dilansir dari Media Indonesia, ketatnya prosedur keamanan membuat pejabat senior Iran tidak memiliki akses langsung untuk menghubungi sang pemimpin tertinggi mereka.

Para negosiator Teheran yang ditunjuk untuk menghadapi pemerintahan Donald Trump mengaku kesulitan melakukan koordinasi internal. Setiap draf proposal atau detail teknis yang dikirimkan oleh Washington mengalami penundaan respons yang sangat lama akibat rantai komunikasi yang terputus ini.

"Melihat mereka mencoba mencari cara untuk berbicara satu sama lain hampir seperti menonton komedi situasi. Mereka benar-benar putus asa," ujar seorang pejabat AS kepada CBS News.

Keterbatasan komunikasi ini merupakan imbas dari Operation Epic Fury yang dilancarkan oleh militer Amerika Serikat dan Israel. Mojtaba Khamenei dilaporkan terluka dalam operasi tersebut, yang juga menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin Iran sejak tahun 1989.

Sejak peristiwa itu, Mojtaba belum pernah muncul atau memperdengarkan suaranya di hadapan publik. Keberhasilan intelijen asing menembus lini kepemimpinan Iran memaksa para pejabat yang tersisa bersembunyi di bunker berbenteng tinggi dan menghindari kontak langsung.

Kendati koordinasi internal Iran berada dalam kekacauan, pihak Amerika Serikat tetap melihat adanya peluang diplomasi. Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran pada prinsipnya telah menyetujui garis besar dari draf perjanjian yang diajukan saat ini.

Presiden Donald Trump melalui unggahannya pada hari Minggu (24/5/2026) menyatakan optimisme bahwa resolusi final akan tercapai dalam hitungan hari. Namun, Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi terkait data intelijen mengenai lokasi Khamenei maupun metode komunikasi tertutup Iran tersebut.

Hingga kini, situasi di Teheran terus menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Kesepakatan final antara kedua negara diharapkan dapat membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz sekaligus menstabilkan lonjakan harga energi dunia akibat blokade.

Artikel terkait

Rekomendasi