Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan sekitar lima juta anak di tanah air telah mengakses konten dewasa hingga judi online pada Senin (4/5/2026). Temuan ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua dunia dalam tingkat akses konten pornografi anak.
Data tersebut menunjukkan kondisi darurat bagi keselamatan generasi muda di ruang siber. Dilansir dari Bisnis, fenomena ini diperburuk dengan temuan lapangan mengenai anak-anak usia sekolah dasar yang sudah terpapar aktivitas perjudian digital.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra memberikan penegasan bahwa tren akses situs terlarang ini menyasar kelompok usia yang sangat muda. Menurutnya, modus operandi situs judi online sering kali mengelabui anak-anak dengan tampilan menyerupai permainan biasa.
"Ada anak usia 8-10 tahun yang bisa mengakses konten judi online, ini tidak bisa dibiarkan dan harus diantisipasi, agar anak-anak tidak candu dengan situs porno dan judi online," tutur Jasra Putra, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Penjelasan mengenai kerentanan anak sebagai target situs dewasa dan perjudian berkaitan erat dengan manipulasi psikologis. Jasra menyebutkan bahwa sifat anak yang masih mudah untuk dirayu dan ditipu menjadi alasan utama mereka terjebak dalam ekosistem digital yang berbahaya.
"Permasalahan anak di ruang digital sangat krusial. Situasi anak Indonesia sedang tidak baik-baik saja," ungkap Jasra Putra.
KPAI menilai tanggung jawab perlindungan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pihak keluarga. Negara diminta hadir melalui regulasi yang ketat karena keterbatasan kemampuan setiap orang tua dalam melakukan pengawasan mandiri di ranah internet.
Risiko pembiaran terhadap situasi ini dinilai dapat memicu dampak psikologis berat bagi anak. Paparan informasi yang masif di media sosial menyerupai tsunami yang mampu menyebabkan tingkat stres hingga depresi yang signifikan pada anak.
ÔÇ£Konten-konten viral sangat membahayakan anak. Kemenkes mencatatkan ada kenaikan hampir 2 kali lipat anak yang ingin mengakhiri hidup,ÔÇØ tutur Jasra Putra.
Langkah konkret yang didorong oleh KPAI mencakup intervensi aturan dari pemerintah serta penyediaan fasilitas fisik bagi anak. Pembangunan taman bermain gratis dianggap sebagai solusi untuk mengalihkan atensi anak dari aktivitas di dunia maya kembali ke interaksi ruang terbuka.