Konflik Timur Tengah Tekan Manufaktur dan Picu Risiko Deindustrialisasi

Konflik Timur Tengah Tekan Manufaktur dan Picu Risiko Deindustrialisasi
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Tekan Manufaktur dan Picu Risiko Deindustrialisasi.

Sektor manufaktur dalam negeri mulai tertekan akibat lonjakan harga bahan baku industri dan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu penurunan kapasitas produksi hingga risiko deindustrialisasi dini pada Minggu (19/4/2026).

Kenaikan biaya produksi yang terjadi di tengah melemahnya daya beli masyarakat berpotensi mempercepat kontraksi pada sektor industri nasional. Penurunan aktivitas manufaktur tersebut diperkirakan akan berdampak langsung pada efisiensi tenaga kerja melalui penyesuaian jam kerja atau pengurangan karyawan.

Guru Besar FEB Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyoroti potensi pemangkasan kapasitas produksi jika harga bahan baku terus melambung. Kenaikan harga material seperti plastik dan bahan bangunan menjadi indikator utama tekanan pada sektor ini.

"Jika harga bahan baku plastik dan bangunan terus melonjak sementara daya beli melemah, industri manufaktur dalam negeri akan memangkas kapasitas produksi," ujar Rahma Gafmi, Guru Besar FEB Universitas Airlangga.

Rahma juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ketergantungan masyarakat pada pinjaman yang tidak sehat akibat tekanan ekonomi yang meluas. Hal ini berkaitan dengan terbatasnya ruang konsumsi berbasis kredit bagi kelas menengah.

"Yang saya khawatirkan jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak ketat terhadap pinjaman online (pinjol), maka makin marak kelas menengah yang terjerat pada pinjol," imbuh Rahma Gafmi, Guru Besar FEB Universitas Airlangga.

Ia menambahkan bahwa sektor padat karya menjadi pihak yang paling terdampak karena sulit melakukan penyesuaian harga dibandingkan sektor lainnya. Transmisi kenaikan harga ke konsumen diprediksi akan semakin meluas pada kuartal II 2026.

"Sektor padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) adalah yang paling berdarah karena tidak memiliki fleksibilitas harga yang sama dengan sektor komoditas atau energi," terang Rahma Gafmi, Guru Besar FEB Universitas Airlangga.

Dilansir dari Money, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku kimia dan manufaktur saat ini masih melampaui angka 70 persen. Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengonfirmasi adanya sinyal krisis stok pada Jumat (17/4/2026).

ÔÇ£Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku,ÔÇØ kata Setijadi, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI).

Gangguan rantai pasok global ini telah menyebabkan lonjakan harga plastik domestik hingga mencapai 50 hingga 100 persen. Kelangkaan juga mulai merambah pada bahan kimia industri dan logam yang sulit disubstitusi dalam jangka pendek.

Industri tekstil menjadi salah satu sektor yang paling terpukul dengan kenaikan harga bahan baku mencapai 40 persen. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana menekankan beratnya beban yang harus ditanggung pelaku usaha.

ÔÇ£Kenaikan bahan baku tekstil ini kan sudah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen kan?ÔÇØ kata Danang Girindrawardana, Direktur Eksekutif API.

Masalah ini diperparah dengan gangguan pada jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz yang menghambat pasokan turunan minyak bumi. Danang menyebutkan bahwa biaya energi dan bahan baku berkontribusi hingga 28 persen dari total biaya produksi.

ÔÇ£Pada akhirnya konsumen dalam negeri kita yang akan mengalami kenaikan harga tekstil dan produk tekstil di ujung,ÔÇØ tutur Danang Girindrawardana, Direktur Eksekutif API.

Artikel terkait

Rekomendasi