Pemerintah Kolombia akan melaksanakan prosedur eutanasia terhadap 80 ekor kuda nil pada paruh kedua tahun 2026 mendatang. Langkah drastis ini diambil untuk mengendalikan ledakan populasi hewan mamalia besar tersebut yang kini menghuni kawasan Sungai Magdalena.
Populasi kuda nil di wilayah Amerika Selatan saat ini diperkirakan mencapai 200 ekor. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel melalui laporan Reuters pada Minggu (19/04/2026), keberadaan hewan invasif ini berisiko melonjak hingga 1.000 ekor pada tahun 2035 jika tidak segera ditangani.
Menteri Lingkungan Hidup Kolombia, Irene Velez, menjelaskan bahwa intervensi pemerintah sangat mendesak demi kelangsungan habitat lokal. Kenaikan jumlah kuda nil secara masif dilaporkan mengancam populasi manatee dan kura-kura sungai, serta memicu pencemaran air di sekitarnya.
"Tindakan ini sangat penting untuk melindungi ekosistem dan spesies asli kita," kata Velez.
Velez memaparkan bahwa rencana pengendalian populasi yang diumumkan pada Senin (11/04) ini didukung dengan anggaran sebesar USD 1,98 juta. Selain opsi suntik mati, program tersebut mencakup skema relokasi dan pengurungan hewan.
Kuda nil ini merupakan keturunan dari empat ekor individu yang diselundupkan oleh gembong narkoba Pablo Escobar ke kebun binatang pribadinya pada era 1980-an. Sejak itu, mereka berkembang biak di alam liar tanpa kendali meski otoritas lingkungan setempat telah berupaya melakukan mitigasi.
Upaya pemindahan hewan ke luar negeri juga terus diupayakan oleh pemerintah pusat melalui komunikasi diplomatik dengan delapan negara. Kolombia menjajaki peluang pengiriman kuda nil ke berbagai suaka atau kebun binatang di India, Meksiko, Filipina, Ekuador, Peru, hingga Afrika Selatan.
Namun, kendala muncul karena otoritas terkait belum memberikan izin masuk bagi hewan-hewan tersebut. Selain itu, terdapat kekhawatiran dari negara tujuan mengenai kondisi genetik kuda nil Kolombia yang mengalami cacat akibat perkawinan sedarah (inbreeding).