Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman bertahap sepanjang 1,3 kilometer sebelum menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam agenda pembahasan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi, sebagaimana dilansir dari Nasional.
"Soalnya masinis sudah mulai mengerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan, Pak. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus langsung menanggapi informasi tersebut untuk memastikan jarak aman yang dibutuhkan kereta api berkecepatan tinggi agar dapat berhenti secara total.
"Ini kereta benar-benar aman itu butuh berapa kilometer mengerem baru berhenti?" tanya Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI.
Pihak KNKT kemudian memberikan penjelasan mengenai estimasi jarak yang diperlukan apabila sistem pengereman darurat atau pengereman penuh diaktifkan oleh masinis.
"Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira kurang lebih antara 900-1.000 meter," ucap Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Instruksi yang diterima masinis dari pusat kendali ternyata menjadi alasan mengapa pengereman secara penuh tidak langsung diterapkan sejak awal.
"Tapi karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, kamu berjalan direm sedikit-sedikit dan banyak-banyak semboyan 35 artinya banyak-banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Pemberitahuan dari pengatur perjalanan kereta membuat masinis berfokus pada peringatan suara dibandingkan menghentikan laju kereta sepenuhnya.
"Karena informasi yang diterima dari PK Timur rem sedikit-sedikit dan sambil bunyikan klakson," lanjut Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Mendengar pemaparan itu, Lasarus menyoroti potensi ruang aman yang tersisa jika masinis mengaplikasikan rem penuh.
"Padahal kalau dia mengerem benar 900-1 kilometer sudah bisa berhenti?" tanya Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI.
Pertanyaan tersebut langsung dibenarkan oleh ketua tim investigasi keselamatan transportasi nasional.
"Iya," jawab Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Perhitungan matematis menunjukkan ada sisa jarak yang cukup aman sebelum titik benturan terjadi.
"Masih ada space 300 meter," kata Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI.
Konfirmasi akhir diberikan untuk menyepakati adanya selisih jarak pengereman tersebut.
"Iya," ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.
Hingga saat ini, KNKT menegaskan bahwa proses investigasi masih berjalan dan belum sampai pada kesimpulan akhir.
Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek ini terjadi pada Senin (27/4/2026) malam yang mengakibatkan 15 orang tewas serta puluhan korban luka-luka.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, insiden bermula saat KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang JPL 85, sehingga satu rangkaian KRL berhenti di Stasiun Bekasi Timur sebelum akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek.