KNKT Temukan Anomali Persinyalan Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi

KNKT Temukan Anomali Persinyalan Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi
Foto: Ilustrasi KNKT Temukan Anomali Persinyalan Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan temuan awal investigasi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada 27 April 2026, dilansir dari Regional.

Pemaparan data faktual tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5), meskipun lembaga tersebut menegaskan belum mengambil kesimpulan akhir terkait penyebab utama peristiwa itu.

"Pada presentasi ini, kami hanya menyajikan data faktual, tidak terkait analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan," ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Kronologi bermula saat KRL Commuter Line 5568A tiba di Stasiun Bekasi pukul 20.33 WIB untuk menunggu KA Sawunggalih melintas, kemudian diberangkatkan pukul 20.45 WIB dengan keterlambatan delapan menit.

Setelah tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.48 WIB, perjalanan KRL sempat tertahan kembali akibat kerumunan warga yang dipicu oleh insiden KRL KA 5181 menabrak taksi di perlintasan terdekat.

Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi pukul 20.50 WIB dalam kondisi lebih cepat tiga menit dari jadwal dengan indikasi sinyal keluar beraspek hijau atau aman.

Tabrakan antara kedua rangkaian kereta tersebut akhirnya tidak terhindarkan dan terjadi pada pukul 20.52 WIB di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.

"Masinis Argo Bromo Anggrek sudah melakukan upaya pengereman 1,3 km dari Stasiun Bekasi Timur, tetapi upaya pengereman tidak cukup," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Penyelidikan sementara menunjukkan adanya anomali persinyalan di lintas BekasiÔÇôBekasi Timur, di mana sinyal keluar Stasiun Bekasi tetap hijau meski ada KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

"Salah satu penyebabnya sinyal di Stasiun Bekasi yang tidak bisa mendeteksi KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur," ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Hambatan visual juga terdeteksi karena masinis kesulitan melihat sinyal pengulang akibat bias cahaya dari lampu perumahan warga dan penerangan jalan di sekitar area rel kereta.

"Masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel," katanya Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Faktor lain yang menjadi sorotan dalam investigasi awal ini adalah masalah komunikasi radio antar kereta dan petugas pengatur perjalanan yang masih menggunakan sistem radio berbeda.

Artikel terkait

Rekomendasi