KKI Temukan Galon Guna Ulang Berusia 11 Tahun Masih Beredar

KKI Temukan Galon Guna Ulang Berusia 11 Tahun Masih Beredar
Foto: Ilustrasi KKI Temukan Galon Guna Ulang Berusia 11 Tahun Masih Beredar.

Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengungkapkan mayoritas masyarakat tidak menyadari adanya batas masa pakai pada galon guna ulang berdasarkan temuan ratusan pengaduan di tujuh kota sepanjang Maret hingga April 2026. Data ini menunjukkan urgensi regulasi terkait keamanan kemasan air minum.

Sebanyak 92 persen konsumen dilaporkan tidak mengetahui batas waktu penggunaan galon tersebut. Temuan ini dilansir dari Detik Health yang merujuk pada 250 laporan yang dikumpulkan oleh KKI dari berbagai wilayah di Indonesia.

"Ini menunjukkan tingginya kesadaran konsumen namun masih minimnya pengetahuan, menunjukkan lemahnya edukasi produsen," kata Ketua KKI, David Tobing dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

David menekankan bahwa data Badan Pusat Statistik menunjukkan ketergantungan besar masyarakat pada air kemasan. Sekitar 34 persen rumah tangga di Indonesia mengandalkan galon sebagai sumber air utama yang dikonsumsi oleh sekitar 100 juta orang setiap harinya.

"Di galon itu enggak ada berapa lama masa pakainya, yang tertera hanya kode produksi. Nah inilah yang saya katakan sebagai kekosongan regulasi masa pakai," kata David.

Hasil verifikasi melalui foto menunjukkan banyak galon yang masih digunakan meski sudah berusia lebih dari satu tahun. Di wilayah sekitar Jakarta, KKI bahkan menemukan kemasan yang telah berusia 11 tahun tetap diedarkan ke konsumen.

"Ada yang usianya 11 tahun. Di beberapa daerah sekitar Jakarta itu galon-galon memang usianya banyak yang 5 tahunan ke atas," ungkap David.

Selain faktor usia, kualitas fisik kemasan juga menjadi keluhan utama dalam laporan masyarakat. Tercatat sebanyak 30 persen galon dilaporkan dalam kondisi kotor atau berlumut, sementara 18 persen lainnya ditemukan dalam kondisi retak maupun tergores.

"Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Nah ini mendominasi laporan konsumen," kata David.

Penggunaan galon polikarbonat yang terlalu lama memiliki risiko migrasi zat kimia Bisphenol A (BPA) ke dalam air. Pencucian yang kasar, paparan sinar matahari, dan usia pakai menjadi pemicu utama luruhnya zat yang berpotensi menyebabkan obesitas hingga diabetes tipe 2 tersebut.

"Tentu bahaya karena BPA itu bisa luruh dan bercampur dengan airnya. Potensi luruhnya BPA ini bisa disebabkan paparan sinar matahari, usia pakai, dan pencucian kasar," jelas David.

Berdasarkan rekomendasi pakar, masa pakai maksimal untuk galon guna ulang idealnya adalah satu tahun atau setara dengan 40 kali penggunaan. David mempertanyakan keadilan bagi konsumen yang membayar harga yang sama untuk kualitas kemasan yang berbeda.

"Ada satu prinsip di dalam perdagangan, bahwa kalau harganya sama maka kualitas juga sama. Pertanyaannya kan kadang dalam galon ini kita bisa saja membeli dengan harga sama tapi galonnya sudah tua," tegas David.

KKI menuntut pertanggungjawaban dari para pelaku usaha atas kelayakan kemasan yang mereka distribusikan di masyarakat. Pemerintah juga didesak untuk segera menyusun payung hukum guna mengatur batas operasional kemasan guna ulang.

"Harusnya pelaku usaha bertanggung jawab terhadap galonnya. Jangan dibiarkan beredar yang sudah tua-uujarnya," ujar David.

Langkah regulasi dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjamin keamanan publik dibandingkan sekadar mengejar profitabilitas industri. Penutupan celah aturan ini diharapkan mampu mencegah risiko kesehatan jangka panjang bagi jutaan pengguna air galon.

"Kekosongan regulasi masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup. Negara perlu regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat bukan sekedar keuntungan produsen," tutup David.

Artikel terkait

Rekomendasi