Mengenal Kitab Faid ar-Rahman Karya Kyai Sholeh Darat Guru RA Kartini

Mengenal Kitab Faid ar-Rahman Karya Kyai Sholeh Darat Guru RA Kartini
Foto: Ilustrasi Mengenal Kitab Faid ar-Rahman Karya Kyai Sholeh Darat Guru RA Kartini.

Tokoh emansipasi RA Kartini memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya berkat pengaruh intelektual dari ulama Nusantara terkemuka, Kyai Sholeh Darat. Salah satu peninggalan berharga dari sang ulama adalah kitab tafsir Faid ar-Rahman yang kini menjadi objek kajian penting di lingkungan akademisi.

Karya ini tidak hanya menduduki posisi sentral dalam studi Islam, tetapi juga menjadi bagian integral dari sejarah pemikiran bangsa. Dikutip dari Cahaya, kitab Faid ar-Rahman disinyalir memberikan dampak signifikan terhadap pola pikir Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Jejak pengaruh tersebut terekam dalam korespondensi Kartini dengan sahabatnya, Stella Zihandelaar. Surat-surat ini kemudian dikumpulkan oleh JH Abendanon dalam buku Door Duisternis Toot Licht, yang di Indonesia dikenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane.

Faid ar-Rahman merupakan terjemahan sekaligus tafsir yang disusun menggunakan Bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Secara etimologis, nama kitab ini memiliki arti limpahan kasih sayang Tuhan, yang mencerminkan kedalaman isi di dalamnya.

Berbeda dengan tafsir konvensional, kitab ini membedah makna Al-QurÔÇÖan dari sisi lahiriah (zahir) maupun batiniah. Penyusunannya dilakukan secara sistematis mengikuti urutan mushaf Al-QurÔÇÖan dan tercatat sebagai tafsir pertama di Nusantara yang menggunakan Bahasa Jawa Pegon.

Metode yang diterapkan oleh Kyai Sholeh Darat adalah ijmali atau penjelasan ringkas. Penulis menerjemahkan ayat ke dalam Jawa Pegon lalu menguraikannya dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam pada masa itu.

Proses Penulisan dan Simbol Perlawanan

Penulisan kitab dimulai dengan mukadimah, diikuti tafsir Surah Al-Fatihah, kemudian berlanjut ke Surah Al-Baqarah. Meski berniat menyelesaikan seluruh isi Al-Qur'an, Kyai Sholeh Darat wafat sebelum karyanya rampung, sehingga kitab ini hanya mencapai enam juz.

Tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1893 di percetakan Haji Muhammad Amin, Singapura. Di balik fungsi religiusnya, Faid ar-Rahman menyimpan dimensi politik sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap kolonialisme Belanda.

Pada era penjajahan, pemerintah kolonial melarang penerjemahan Al-QurÔÇÖan ke bahasa lokal karena khawatir isi kitab suci tersebut dapat membangkitkan kesadaran masyarakat pribumi untuk melawan. Dengan menulis tafsir ini, Kyai Sholeh Darat secara berani membuka cakrawala pemikiran umat di tengah tekanan penjajah.

Profil KH Sholeh Darat sang Guru Bangsa

Ulama besar yang memiliki nama asli Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani ini lahir di Dukuh Kedung Jumbleng, Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Jepara. Nama Darat sendiri merujuk pada wilayah pesisir utara Semarang tempat para pendatang berlabuh.

Kyai Sholeh Darat wafat pada 18 Desember 1903 saat menginjak usia 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Semarang, yang hingga kini masih sering dikunjungi oleh para peziarah.

Sepanjang hidupnya, ia berguru kepada banyak ulama besar seperti KH M Syahid di Pati, KH Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi di Kudus, hingga bermukim di Makkah untuk mengajar dan berinteraksi dengan Syekh Nawawi al-Bantani serta Syekh Ahmad Khatib.

Kapasitas keilmuannya melahirkan murid-murid yang kelak menjadi tokoh kunci di Indonesia. Selain RA Kartini, tercatat nama-nama besar seperti KH Hasyim AsyÔÇÖari, KH Ahmad Dahlan, KH Munawir Krapyak, hingga KH Cholil Rembang pernah menimba ilmu kepadanya.

Dalam ranah teologi, ia teguh memegang paham AsyÔÇÖariyah dan Maturidiyah, sedangkan dalam hukum Islam ia menganut mazhab SyafiÔÇÖi. Selain Faid ar-Rahman, ia juga menulis MajmuÔÇÖat Syariat al-Kafiyat li al-Awam serta syarah atas kitab Al-Hikam.

Artikel terkait

Rekomendasi