Berjalan kaki sejauh berkilometer-kilometer membelah malam di Jakarta Pusat demi membawa pulang uang Rp 150.000 telah menjadi rutinitas sehari-hari bagi para pengamen gerobak speaker keliling.
Seperti yang terlihat di kawasan Senen menjelang malam, suara musik dangdut dan lagu pop lawas berdentum nyaring dari sebuah gerobak biru yang didorong perlahan, menyusuri gang-gang sempit permukiman warga demi mengetuk belas kasih sesama. Di atas gerobak itu terdapat dua speaker besar, aki, kabel, dan pemutar musik sederhana yang terus menyala sepanjang perjalanan. Musik diputar cukup keras agar terdengar hingga ke dalam rumah warga. Kompas.com menemui sejumlah pengamen gerobak keliling yang beroperasi di kawasan Senen, Paseban, hingga Kramat.
"Kalau siang panas banget sama sering kena razia Satpol PP. Jadi lebih aman malam," ujar Fera, pengamen gerobak keliling.
Fera sudah hampir enam tahun hidup di jalanan sebagai pengamen speaker keliling. Awalnya ia mengamen bersama suaminya. Namun setelah sang suami mengalami stroke ringan, ia kini harus mendorong gerobak sendiri demi mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan mengenakan jaket tipis dan sandal jepit, Fera berjalan perlahan menyusuri gang-gang kecil di Matraman hingga Manggarai. Sesekali ia berhenti di depan warung atau rumah warga sambil menunggu ada yang memberikan uang receh.
"Kalau di jalan besar sering diusir atau kena razia. Di gang kecil kadang warga masih ada yang kasihan," kata Fera, pengamen gerobak keliling.
Gerobak yang digunakannya merupakan hasil modifikasi sederhana. Di atasnya terdapat speaker sewaan, aki, dan perangkat pemutar musik. Untuk menyewa speaker, ia harus membayar Rp 40.000 per hari.
"Pernah mau nyicil beli speaker sendiri, tapi enggak kesampaian karena uangnya selalu habis buat makan," ujar Fera, pengamen gerobak keliling.
Dalam sehari, penghasilannya tidak menentu. Saat ramai, ia bisa membawa pulang hingga Rp 150.000. Namun jumlah itu jarang didapat.
"Biasanya cuma Rp 70.000 sampai Rp 100.000. Itu juga belum dipotong sewa speaker sama makan," kata Fera, pengamen gerobak keliling.
Penghasilan tersebut bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Fera mengaku masih menumpang tinggal di rumah saudaranya di kawasan Manggarai bersama anaknya.
"Kadang buat makan aja pas-pasan. Kalau anak butuh sekolah atau suami sakit ya bingung," ujar Fera, pengamen gerobak keliling.
Tak jarang anaknya ikut turun ke jalan saat tidak ada yang menjaga di rumah. Nasib serupa dialami Asep (38), pengamen speaker keliling lainnya di kawasan Senen. Sudah tujuh tahun ia menjalani pekerjaan tersebut setelah kehilangan pekerjaan sebagai kuli bongkar di pasar.
"Dulu malu banget, tapi lama-lama karena kebutuhan ya dijalanin aja," kata Asep, pengamen speaker keliling.
Setiap sore sekitar pukul 16.00 WIB, ia mulai mendorong gerobak dari kawasan Senen menuju gang-gang kecil di Paseban hingga Kramat. Dalam semalam, ia bisa berjalan berkilo-kilometer sambil mendorong gerobak berat berisi speaker dan aki. Asep mengaku penghasilan tertinggi yang pernah didapat sekitar Rp 150.000 dalam semalam. Namun nominal itu hanya terjadi saat kondisi ramai.
"Kalau lagi sepi ya Rp 60.000 sampai Rp 80.000 aja. Belum kepotong makan sama sewa speaker," kata Asep, pengamen speaker keliling.
Speaker yang ia gunakan pun masih sewaan dengan biaya Rp 40.000 per hari.
"Kadang kalau lagi sepi ya nombok. Tapi kalau enggak pakai speaker susah dapat uang," ujarnya Asep, pengamen speaker keliling.
Asep mengaku pernah beberapa kali terkena razia Satpol PP. Bahkan speaker miliknya sempat disita petugas. Meski begitu, ia tetap kembali ke jalanan karena tidak memiliki pekerjaan lain.
"Buat makan anak ya mau gimana," ujar Asep, pengamen speaker keliling.
Saat ini ia tinggal menumpang di rumah saudaranya di Johar Baru bersama istri dan anaknya.
"Tidur di ruang tamu. Malu sih, tapi belum mampu ngontrak," katanya Asep, pengamen speaker keliling.
Sementara itu, Bayu (42) memilih tinggal di kolong jembatan dekat Pasar Rumput bersama beberapa rekannya sesama pengamen. Sebelum menjadi pengamen speaker keliling, Bayu bekerja serabutan di proyek bangunan. Namun pandemi membuat pekerjaannya hilang.
Bertahan di Kolong Jembatan
"Utang numpuk, akhirnya nekat ngamen," ujar Bayu, pengamen speaker keliling.
Setiap sore hingga malam, Bayu berkeliling dari Senen hingga Salemba sambil mendorong gerobak berisi speaker. Ia mengaku sengaja menghindari siang hari karena rawan razia. Bayu mengatakan, penghasilan rata-ratanya hanya sekitar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per hari.
"Jauh dari cukup. Kadang buat makan aja pas-pasan," ujar Bayu, pengamen speaker keliling.
Ia juga mengaku sedih ketika harus membawa anak ikut mengamen. Meski hidup berpindah-pindah dan sering diusir warga, Bayu mengaku tetap bertahan karena tidak punya pilihan lain.
"Kalau ada kerja tetap meski gaji kecil juga saya ambil," katanya Bayu, pengamen speaker keliling.
Di sisi lain, Satpol PP Jakarta Pusat menegaskan aktivitas pengamen speaker keliling melanggar aturan ketertiban umum. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Pangabean mengatakan, pihaknya rutin melakukan penertiban terhadap pengamen jalanan yang dianggap mengganggu masyarakat.
Penegakan Aturan Ketertiban Umum
"Yang pasti itu melanggar ketertiban umum Perda Nomor 8 Tahun 2007," kata Purnama, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat.
Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 mengatur tentang Ketertiban Umum di wilayah ibu kota guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan tertib. Purnama mengatakan, Satpol PP akan melakukan penghalauan maupun operasi penertiban bersama Dinas Sosial terhadap pengamen yang dianggap mengganggu.
"Kalau yang bandel dan sangat mengganggu ketertiban umum, kita bersama sosial melakukan operasi. Kalau tidak terlalu mengganggu, kita halau saja," ujar Purnama, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat Agus Aripianto mengatakan, fenomena pengamen speaker keliling merupakan bentuk adaptasi kelompok Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) untuk bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
Sorotan Faktor Tekanan Ekonomi
"Peralihan ke sound system bervolume tinggi merupakan adaptasi PPKS untuk meningkatkan pendapatan. Namun di sisi lain hal ini memicu polusi suara yang mengganggu kenyamanan warga," kata Agus, Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat.
Menurut Agus, fenomena tersebut berakar dari kerentanan ekonomi dan keterbatasan keterampilan sehingga jalanan masih menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat. Ia menyebut Dinsos Jakarta Pusat terus melakukan monitoring dan penjangkauan terhadap pengamen jalanan. Berdasarkan data Dinsos Jakarta Pusat, sepanjang 2025 terdapat 112 pengamen yang terjangkau dari total 1.245 PPKS keseluruhan.
"Didominasi pengamen umum dan pengamen badut, termasuk pengamen musik box dan variasi lainnya," ujarnya Agus, Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat.
Sementara hingga April 2026, tercatat sudah ada 109 pengamen yang terjangkau. Agus mengatakan, para pengamen yang terjaring tidak hanya ditertibkan, tetapi juga mendapatkan pembinaan di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya milik Dinas Sosial DKI Jakarta.
"Di panti mereka mendapatkan pembinaan fisik, mental, dan spiritual. Selanjutnya diasesmen untuk program pelatihan kerja agar memiliki keterampilan hidup dan tidak kembali ke jalanan," kata Agus, Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat.