Kisah RA Kartini Dalami Islam Lewat Tafsir Mbah Sholeh Darat

Kisah RA Kartini Dalami Islam Lewat Tafsir Mbah Sholeh Darat
Foto: Ilustrasi Kisah RA Kartini Dalami Islam Lewat Tafsir Mbah Sholeh Darat.

Raden Ajeng Kartini selama ini lebih populer sebagai tokoh emansipasi perempuan di Indonesia. Namun, sisi religiusitas tokoh yang lahir di Jepara pada 21 April 1879 tersebut jarang mendapat perhatian publik.

Dikutip dari Cahaya, Kartini diketahui pernah menjadi santriwati dari ulama terkemuka asal Jawa Tengah, KH Muhammad Sholeh bin Umar atau yang akrab disapa Mbah Sholeh Darat.

Hubungan guru dan murid ini memberikan dampak besar terhadap pemahaman keislaman Kartini. Hal tersebut juga memengaruhi munculnya tafsir Al Quran dalam bahasa lokal untuk masyarakat Jawa.

Kartini menunjukkan kegigihan dalam menuntut ilmu agama dengan menghadiri berbagai pengajian yang dipimpin Mbah Sholeh Darat. Ia tercatat mengikuti kajian di wilayah Jepara, Demak, hingga Kudus.

Mbah Sholeh Darat sendiri merupakan pendiri Pesantren Darat di Semarang. Beliau dikenal sebagai guru dari pendiri organisasi besar di Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari (NU) dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Berdasarkan catatan Rizka Chamami, dosen UIN Walisongo, Mbah Sholeh Darat sering memberikan naskah tulisan tangan kepada Kartini. Dari materi tersebut, Kartini mulai mempelajari huruf Arab Pegon secara intensif.

Keresahan Memahami Makna Kitab Suci

Semangat belajar yang tinggi membuat Kartini sering mempertanyakan metode pembelajaran agama pada masanya. Ia merasa kurang puas karena hanya diajarkan membaca tanpa memahami arti ayat yang dibaca.

Melalui surat kepada sahabatnya, Stella EH Zeehandelaar pada 6 November 1899, Kartini mengungkapkan kegelisahan hatinya mengenai metode pembelajaran tersebut.

"Al-QurÔÇÖan terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Di sini, orang diajari membaca Al-QurÔÇÖan, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya," tulis Kartini.

Ia juga menambahkan perumpamaan mengenai pengajaran bahasa Inggris. "Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya."

Lahirnya Tafsir Faidlur Rahman

Menanggapi kebutuhan muridnya, Mbah Sholeh Darat akhirnya menyusun Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid-Dayyan. Kitab ini ditulis menggunakan huruf Arab Pegon agar mudah dipahami masyarakat lokal.

Penyusunan jilid pertama dilakukan selama sebelas bulan, mulai 19 Februari 1892 hingga 9 Desember 1892. Jilid setebal 503 halaman ini memuat pembahasan mengenai surat Al Fatihah dan Al Baqarah.

Imam Taufiq, ahli tafsir UIN Walisongo, menjelaskan bahwa desakan dari Kartini menjadi salah satu pemicu percepatan penerbitan tafsir tersebut.

"Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan kebutuhan tafsir Al Qur'an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat," ujar Imam.

Bukti Intelektual Hubungan Guru dan Murid

Data mengenai keberadaan Kartini sebagai santriwati pertama kali ditemukan oleh Moesa Machfudz, dosen sejarah UGM. Informasi ini merujuk pada catatan pribadi KH Ma'shum Demak.

Hubungan keduanya dianggap sebagai bentuk dialog intelektual yang tertuang dalam karya masing-masing. Kartini dengan surat-surat keresahannya, sementara Mbah Sholeh Darat mencantumkan kata "Ratu" dalam mukadimah tafsirnya.

Kata "Ratu" tersebut memiliki makna ganda, yakni merujuk kepada Allah SWT serta penghormatan bagi pihak pemerintah dan keluarga bangsawan, termasuk sosok Kartini.

Artikel terkait

Rekomendasi