Kisah Jemaah Haji Tunanetra Sinjai yang Menginspirasi Arab Saudi

Kisah Jemaah Haji Tunanetra Sinjai yang Menginspirasi Arab Saudi
Foto: Ilustrasi Kisah Jemaah Haji Tunanetra Sinjai yang Menginspirasi Arab Saudi.

Sebuah kisah menyentuh datang dari tanah suci, di mana seorang jemaah haji tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Arab Saudi.

Jemaah bernama Saifuddin HM Abd Muin Saideng yang tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar itu disebut menginspirasi banyak pihak karena semangatnya berhaji di tengah keterbatasan penglihatan. Kisah perjuangannya diketahui langsung oleh tim Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi yang kemudian mendatanginya di Tanah Suci. Bahkan, muncul rencana untuk mewakafkan nama Saifuddin sebagai nama salah satu masjid yang akan dibangun di Arab Saudi.

Ketua PPIH Embarkasi Makassar Ikbal Ismail mengatakan Saifuddin mendapat perhatian khusus setelah kisah perjuangannya diketahui Pemerintah Saudi. Menurut dia, tim Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mendatangi langsung Saifuddin untuk melihat kondisinya.

"Kami dapat info dari pembimbing ibadahnya Kabupaten Sinjai bahwa kemarin ada tim Kementerian Haji dan Umrah Pemerintah Saudi mendatangi jemaah atas nama Saifuddin yang tunanetra dan melihat langsung kondisinya," katanya Ikbal Ismail, Ketua PPIH Embarkasi Makassar.

Ikbal mengatakan Pemerintah Saudi juga memberikan hadiah kepada Saifuddin sebagai bentuk apresiasi atas semangatnya menunaikan ibadah haji.

"Kami menyaksikan, ada di foto, Pemerintah Saudi memberikan hadiah kepada tunanetra tersebut karena semangat beliau begitu besar," ungkap Ikbal Ismail, Ketua PPIH Embarkasi Makassar.

Ketua PPIH Embarkasi Makassar tersebut menambahkan bahwa kekaguman pihak Arab Saudi didasari oleh tekad luar biasa sang jemaah yang tidak surut oleh keterbatasan fisik.

"Dengan kondisi tunanetra, tetapi beliau masih ingin melaksanakan ibadah haji setelah beberapa tahun menabung," tambah Ikbal Ismail, Ketua PPIH Embarkasi Makassar.

Menurut Ikbal, kisah Saifuddin membuat banyak pihak terharu karena tekadnya tetap kuat untuk berangkat ke Tanah Suci meski memiliki keterbatasan fisik. Ia menyebut Pemerintah Saudi bahkan berencana membangun masjid yang akan menggunakan nama Saifuddin.

"Dari latar belakang itulah sehingga Pemerintah Saudi, informasi dari pembimbing ibadahnya, berencana akan dibangunkan masjid di Arab Saudi atas nama Haji Saifuddin," ungkap Ikbal Ismail, Ketua PPIH Embarkasi Makassar.

Meski demikian, Ikbal mengatakan pihaknya masih menunggu realisasi rencana tersebut.

"Kita tinggal menunggu apakah janji tersebut akan terealisasi atau tidak," jelas Ikbal Ismail, Ketua PPIH Embarkasi Makassar.

Perjuangan Dua Dekade Menuju Tanah Suci

Sebelumnya, Saifuddin mengaku telah mendaftar haji sejak 2014 dan bersyukur akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

"Tahun 2014 sudah mendaftar. Alhamdulillah," katanya Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Di kampung halamannya, Saifuddin dikenal sebagai imam masjid. Meski kini mengalami tunanetra, ia tetap menjalankan aktivitas keagamaan dengan mengandalkan hafalan dan ingatan semasa ia masih bisa melihat dahulu.

"Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal (berangkat ke masjid) saat bisa melihat dulu," ungkap Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Dalam perjalanan hajinya, Saifuddin berangkat bersama empat anggota keluarga termasuk seorang sepupu.

"Alhamdulillah masih kuat jalan," ujarnya Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Perjalanan menuju Tanah Suci bukan hal mudah bagi Saifuddin. Ia harus menabung lebih dari 20 tahun dari hasil berjualan bahan campuran dan honor sebagai imam masjid yang terbatas.

"20 tahun lebih menabung. Jualan bahan campuran. Honor dari imam masjid Rp200 ribu," kata Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Harapan yang Belum Padam

Di balik keterbatasannya, Saifuddin masih menyimpan harapan agar penglihatannya dapat kembali pulih. Ia mengaku pernah menjalani pengobatan mata sejak lama sebelum akhirnya kehilangan penglihatan secara total saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Doanya Berharap mata (sembuh). Sudah pernah berobat. Tahun 85, tidak langsung kabur (penglihatan). Waktu itu berobat ke dokter mata di Makassar," jelas Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Penyakit mata yang dideritanya sejak remaja itu menyisakan kenangan menyakitkan sebelum akhirnya menggelapkan dunianya secara total.

"Buta saat SMP, awalnya sakit. awalnya mata terasa sakit seperti tertusuk jarum. Bengkak," tambahnya Saifuddin, Jemaah Haji Tunanetra.

Artikel terkait

Rekomendasi