Setelah empat tahun menghilang tanpa kabar, Ayi Solehudin akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Pria berusia 49 tahun asal Desa Sukajadi, Kabupaten Cianjur ini ditemukan dalam kondisi linglung di kawasan hutan Gunung Salak, Sukabumi.
Ayi sebelumnya dilaporkan meninggalkan rumah sejak empat tahun silam. Penemuan dirinya di area hutan lindung tersebut menjadi akhir dari penantian panjang pihak keluarga yang terus mencarinya.
Penyebab Gangguan Kejiwaan yang Dialami Ayi
Kondisi kesehatan mental Ayi diketahui mulai menurun sejak dirinya bercerai dengan sang istri pada tahun 2019. Sejak saat itu, ia sering melamun dan menunjukkan kesulitan saat diajak berkomunikasi oleh orang-orang di sekitarnya.
Pihak keluarga sempat mengambil langkah ekstrem dengan merantai kaki Ayi agar ia tidak membahayakan diri sendiri maupun warga. Hal ini dilakukan karena kondisi psikisnya yang kian tidak stabil setelah berpisah dari pasangannya.
Menurut kakak kandungnya, Ujang Sulaeman, kondisi adiknya semakin memburuk setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia. Tekanan hidup yang bertubi-tubi tersebut membuat gangguan kejiwaan Ayi menjadi lebih parah dari sebelumnya.
Beberapa faktor utama yang memicu kondisi kesehatan mental Ayi antara lain:
- Mengalami perceraian dengan istri pada tahun 2019 yang menjadi titik awal depresi.
- Duka mendalam akibat kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal dunia.
- Keterbatasan akses komunikasi dengan keluarga yang membuatnya semakin menutup diri.
- Riwayat gangguan jiwa yang sempat membuatnya harus menjalani pengikatan atau pasung demi keamanan.
Ujang menuturkan bahwa upaya pengobatan sudah sering dilakukan, baik melalui jalur medis maupun alternatif. Namun, usaha tersebut belum memberikan kesembuhan permanen hingga akhirnya Ayi menghilang dari rumah.
Upaya Pencarian Mandiri oleh Keluarga
Selama empat tahun Ayi hilang, keluarga terus berupaya melakukan pencarian secara mandiri di berbagai daerah. Meski tidak melaporkan kehilangan secara resmi ke polisi, mereka tetap menelusuri setiap informasi yang masuk.
Salah satu harapan sempat muncul ketika seorang tetangga yang bekerja sebagai sopir mengaku melihat Ayi di Cirebon. Sayangnya, saat keluarga mendatangi lokasi tersebut, keberadaan Ayi tidak ditemukan sama sekali.
Kini, pihak keluarga merasa sangat bersyukur atas ditemukannya Ayi meskipun masih ada tanda tanya besar. Hingga saat ini, belum diketahui pasti bagaimana Ayi bisa bertahan hidup dan sampai ke tengah hutan Gunung Salak.
Data Penanganan Kesehatan Mental di Campaka
Pihak Puskesmas Campaka mengonfirmasi bahwa Ayi memang terdaftar sebagai pasien dengan gangguan jiwa di wilayah tersebut. Kepala Puskesmas, dr. Tito, menjelaskan bahwa pemantauan rutin sebenarnya terus dilakukan kepada warga yang membutuhkan.
Berikut adalah data ringkas terkait penanganan kesehatan jiwa di wilayah tersebut:
| Kategori Data | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah Pasien Gangguan Jiwa | 11 orang warga Desa Sukajadi |
| Status Penanganan | Rutin mendapatkan pengobatan dari puskesmas |
| Catatan Medis Terakhir Ayi | Juli 2023 sebelum ditemukan di Gunung Salak |
| Lokasi Penemuan | Hutan Lindung Gunung Salak, Sukabumi |
Tabel di atas menunjukkan bahwa Ayi sempat aktif menjalani pengobatan medis sebelum akhirnya hilang dan ditemukan kembali. Pihak medis akan terus memantau kondisi kesehatan Ayi pasca kepulangannya ke rumah keluarga.
Kembalinya Ayi diharapkan menjadi awal baru bagi proses pemulihan kesehatan mentalnya di lingkungan keluarga. Masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap gejala gangguan jiwa di lingkungan sekitar agar penanganan dini bisa segera dilakukan.