Kisah Louise dan Bob Koke Mempopulerkan Surfing di Pantai Kuta

Kisah Louise dan Bob Koke Mempopulerkan Surfing di Pantai Kuta
Foto: Ilustrasi Kisah Louise dan Bob Koke Mempopulerkan Surfing di Pantai Kuta.

Aktivitas selancar atau surfing di Pantai Kuta, Bali ternyata memiliki akar sejarah yang kuat sejak era 1930-an. Fenomena ini bermula dari kedatangan pasangan pekerja seni asal Hollywood, Louise Koke dan Robert "Bob" Koke, ke Pulau Dewata.

Dilansir dari Detik Travel, pasangan ini pertama kali menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1936. Meski awalnya hanya berniat untuk berlibur singkat selama beberapa minggu, pesona Bali membuat mereka memutuskan untuk menetap lebih lama.

Louise Koke dalam bukunya bertajuk Our Hotel in Bali (1987) menggambarkan wilayah selatan Bali saat itu sebagai daerah gersang yang tidak cocok untuk pertanian. Pantai pasir putih yang kini mendunia sempat dianggap tidak memiliki nilai manfaat bagi warga lokal.

Pertemuan mereka dengan K'tut Tantri, seorang wanita asal Skotlandia bernama asli Muriel Stuart Walker, menjadi titik balik. K'tut Tantri yang mengenakan sarung dan fasih berbahasa Inggris tersebut membantu mereka menyewa mobil dan memperkenalkan keindahan Pantai Kuta.

Terpikat oleh kemurnian pantainya, Bob dan Louise mendirikan homestay sederhana yang diberi nama Kuta Beach Hotel. Lokasi penginapan yang terdiri dari gubuk daun palem ini dulunya berada tepat di depan lokasi Hard Rock Hotel sekarang.

Kuta saat itu hanyalah desa nelayan sepi yang hanya dihuni oleh beberapa keluarga. Bob Koke yang sudah mengenal teknik berselancar saat proses syuting film di Hawaii mulai mencoba menaklukkan ombak Kuta dengan papan selancar buatannya.

Menyadari dirinya adalah satu-satunya peselancar di Bali, Bob kemudian memesan papan selancar kayu merah langsung dari Hawaii. Kehadiran papan-papan tersebut menandai dimulainya era edukasi selancar bagi anak-anak lokal di Pantai Kuta.

Kuta Beach Hotel mulai beroperasi secara resmi pada awal 1937 dan langsung populer berkat rekomendasi mulut ke mulut. Banyak wisatawan yang awalnya hanya berniat menginap beberapa hari justru memperpanjang kunjungan mereka hingga berminggu-minggu.

Meskipun Asisten Residen Belanda awalnya memandang sebelah mata penginapan tersebut, keberhasilan Koke dalam menarik wisatawan akhirnya mulai dilirik sebagai peluang ekonomi. Hal ini memicu pengusaha Barat lainnya untuk membangun akomodasi serupa di pesisir pantai.

Pertumbuhan pariwisata ini terhenti seketika saat pecahnya Perang Dunia II ketika Jepang menyerang Bali. Bob dan Louise berhasil melarikan diri, namun sekembalinya Bob setelah perang berakhir, Kuta Beach Hotel sudah dalam kondisi hancur total.

Meski hotelnya rata dengan tanah, reputasi Bali sebagai destinasi wisata dan selancar terus berkembang pesat. Louise Koke hingga akhir hayatnya pada 1993 tetap meyakini bahwa Kuta merupakan pantai terindah di dunia.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Bob Koke kembali ke Kuta untuk menebar abu jenazah Louise di tengah ombak. Ia mengarungi laut dengan toples kecil, tanpa disadari oleh para peselancar muda bahwa sosok tersebut adalah perintis budaya selancar di Bali.

Artikel terkait

Rekomendasi