Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, baru saja meresmikan sebuah monumen peringatan yang didedikasikan secara khusus bagi para prajurit negaranya. Fasilitas ini menjadi simbol penghormatan bagi tentara Korea Utara yang kehilangan nyawa saat bertempur bersama pasukan Rusia dalam konflik di Ukraina.
Sebagaimana dilansir dari Kompas melalui laporan Kantor Berita Korea Utara KCNA pada Senin (27/4/2026), Kim Jong-un dalam pidatonya menekankan urgensi penguatan aliansi antara Pyongyang dan Moskow. Ia menyatakan bahwa hubungan kedua negara harus menjadi benteng yang kokoh di masa depan.
Sehari sebelum peresmian monumen tersebut, pihak berwenang telah membuka Museum Peringatan Prestasi Tempur yang berlokasi di Pusat Operasi Militer Luar Negeri, Pyongyang. Momentum ini dipilih karena bertepatan dengan peringatan satu tahun peristiwa pembebasan wilayah Kursk dari kendali pasukan Ukraina.
Dikutip dari Yonhap, Kim Jong-un menegaskan dalam pidatonya bahwa museum tersebut merupakan perwujudan komitmen nyata dalam mempererat hubungan bilateral. Ia juga menyinggung bahwa ikatan persaudaraan antara Korea Utara dan Rusia telah ditempa melalui tumpah darah di medan perang.
"Tidak peduli bagaimana aturan perang berubah dan kapan pun dan di mana pun krisis terjadi, kita harus diperkuat menjadi benteng yang tulus, berdedikasi, dan kuat dengan kekuatan yang bersatu," ucap Kim Jong-un.
Selain membahas hubungan bilateral, Kim Jong-un menyoroti bahwa operasi militer di wilayah Kursk memiliki signifikansi strategis yang besar. Ia mengklaim bahwa kolaborasi antara Pyongyang dan Moskow berhasil membendung bangkitnya fasisme serta menghancurkan ambisi kekuatan hegemonik dalam mempertahankan kedaulatan.
Hubungan militer kedua negara memang terpantau semakin intensif sejak penandatanganan perjanjian pertahanan bersama pada Juni 2024. Dokumen strategis tersebut ditandatangani langsung oleh Kim Jong-un dan Presiden Vladimir Putin saat kunjungan kenegaraan di Pyongyang.
Hingga saat ini, Korea Utara dilaporkan telah memobilisasi sekitar 15.000 personel tempur serta berbagai pasokan senjata konvensional untuk mendukung Rusia sejak tahun 2024. Pengiriman aset militer ini menjadi salah satu bentuk nyata dari implementasi pakta pertahanan mereka.
Berdasarkan data dari Badan Intelijen Korea Selatan, dampak dari keterlibatan militer ini cukup signifikan secara angka. Diperkirakan sebanyak 6.000 tentara asal Korea Utara telah tewas atau mengalami luka-luka selama terlibat dalam palagan perang tersebut.