Kim Jong-un Sebut Tentara Korut di Ukraina sebagai Pahlawan

Kim Jong-un Sebut Tentara Korut di Ukraina sebagai Pahlawan
Foto: Ilustrasi Kim Jong-un Sebut Tentara Korut di Ukraina sebagai Pahlawan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memberikan penghormatan khusus bagi para personel militernya yang melakukan aksi bunuh diri guna menghindari penangkapan oleh pasukan musuh selama bertugas di medan perang Ukraina pada April 2026.

Pengakuan resmi mengenai taktik penghancuran diri tersebut disampaikan Kim Jong-un dalam pidatonya pada upacara memorial tentara Korea Utara sebagaimana dilansir dari Kompas. Berdasarkan manuskrip media resmi KCNA pada Senin (27/4/2026), para prajurit tersebut digambarkan sebagai sosok yang menjaga kehormatan negara melalui aksi ekstrem.

"Bukan hanya para pahlawan yang tanpa ragu memilih jalan penghancuran diri dan bunuh diri untuk membela kehormatan besar, tetapi juga mereka yang gugur saat menyerbu di garis depan pertempuran," kata Kim Jong-un.

Pemimpin tertinggi Pyongyang tersebut menekankan bahwa loyalitas para prajurit tetap teruji meskipun mereka berada dalam kondisi fisik yang hancur akibat serangan di garis depan.

"Mereka yang merintih frustrasi karena gagal memenuhi tugas mereka sebagai tentara, alih-alih menderita kesengsaraan tubuh mereka yang hancur oleh peluru dan bom, mereka dapat disebut sebagai pejuang dan patriot setia partai," kata Kim Jong-un.

Berdasarkan data intelijen dan keterangan pembelot, militer Korea Utara diduga memberikan instruksi kepada pasukannya untuk segera meledakkan diri jika terdesak demi mencegah status tahanan perang. Laporan menunjukkan terdapat dua tentara yang kini ditawan di Kyiv setelah gagal melakukan aksi bunuh diri karena luka parah yang mereka derita.

Pengerahan kekuatan militer ini merupakan bagian dari dukungan Pyongyang kepada Moskow yang dimulai sejak 2024 dengan pengiriman sekitar 14.000 tentara elit. Pejabat dari Ukraina dan Korea Selatan memperkirakan lebih dari 6.000 tentara asal Korea Utara telah tewas dalam pertempuran intensif tersebut.

Selain personel militer, intelijen Korea Selatan mencatat adanya pasokan jutaan peluru artileri dan rudal balistik jarak pendek yang dikirim ke Rusia. Sebagai kompensasi atas dukungan militer tersebut, rezim Korea Utara mendapatkan imbalan berupa bantuan stabilitas ekonomi serta transfer teknologi militer dari pemerintah Rusia.

Artikel terkait

Rekomendasi