Jemari Supriadi, 53, bergerak cekatan memeriksa kembali isi tas di sudut kamar hotelnya di kawasan Syisyah, Mekah, Minggu (24/5) pagi. Satu per satu bekal seperti beberapa bungkus makanan ringan, obat-obatan pribadi, seuntai tasbih, sajadah kecil, hingga buku doa saku dengan tepian mulai lusuh sebagai penanda sahih bahwa lembarannya telah berulang kali dibuka dipastikan tak tertinggal.
Sekilas, kesibukan itu tampak seperti persiapan perjalanan biasa. Namun, bagi jutaan jemaah haji yang bersiap bergerak ke Arafah pada 9 Zulhijah (Senin), tas kecil itu akan menjadi saksi perjalanan spiritual paling penting dalam hidup mereka.
Bagi jemaah haji Indonesia, fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan ujian sesungguhnya. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sejak jauh hari mengingatkan bahwa fase ini menuntut kesiapan fisik prima. Jemaah harus menghadapi mobilisasi besar-besaran dari hotel menuju tenda Arafah, bergeser pada tengah malam ke hamparan terbuka Muzdalifah, hingga menempuh perjalanan kaki berkilo-kilometer di Mina di bawah sengatan terik untuk melontar jumrah. Sebuah rangkaian ritual yang menuntut ketahanan tanpa kompromi.
Namun, Supriadi memilih tantangan yang lebih berat. Ia menjadi satu dari sedikit jemaah Indonesia yang memutuskan melaksanakan sunnah Tarwiyah dengan berangkat lebih awal menuju Mina. Minggu (24/5) sore, langkahnya akan menjadi pembuka perjalanan menuju fase paling krusial dalam ibadah haji. Secara tradisi, ibadah Tarwiyah dilakukan dengan bermalam (mabit) di Mina menjelang wukuf. Jemaah bertolak dari Mekah pada 8 Zulhijah dan bergeser ke Arafah keesokan hari untuk menyambut puncak haji pada 9 Zulhijah.
Keputusan menjalankan sunnah Tarwiyah tentu membawa konsekuensi fisik dan mental yang tidak ringan. Bermalam dalam keheningan ibadah di Mina sebelum bergabung dengan arus besar jemaah menuju Arafah membutuhkan pengelolaan stamina yang matang.
"Fisik harus benar-benar dijaga ketat. Sejak Jumat (22/5) di Mekah, saya sangat membatasi aktivitas keluar pada siang hari. Minum air tidak boleh menunggu haus, dan persediaan oralit selalu siap di dalam tas," ujar Supriadi, jemaah haji Indonesia.
Di balik kesiapannya, terselip motivasi pribadi yang membuat pria paruh baya itu kian bersemangat menantang cuaca ekstrem. Berdasarkan manifes penerbangan, bila seluruh rangkaian Armuzna berjalan lancar dan ia bergeser ke Madinah, Supriadi dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 2 Juli.
"Tanggal 2 Juli itu pas hari ulang tahun saya," ujar Supriadi, jemaah haji Indonesia.
Sementara Supriadi memilih jalur Tarwiyah, persiapan berbeda ditempuh Rochani, 74. Jemaah asal Indonesia itu mengambil jalur Haji Ifrad, metode yang mendahulukan pelaksanaan ibadah haji secara penuh sebelum menunaikan umrah setelah seluruh prosesi Armuzna rampung. Sejak tiba di Mekah pada Jumat (22/5), Rochani belum sekalipun menanggalkan dua helai kain putih tanpa jahitan dari tubuhnya. Menjaga kain ihram tetap suci sekaligus menahan diri dari berbagai larangan ihram selama berhari-hari di tengah cuaca ekstrem menjadi ujian tersendiri.
"Kami yang datang menjelang puncak haji banyak yang pilih haji ifrad," kata Rochani, jemaah haji Indonesia.
Bagi Rochani, kesiapan fisik untuk menghadapi Armuzna telah dipersiapkan sejak memutuskan mengambil jalur Ifrad. Kini, fokusnya tertuju pada penguatan mental. Menjelang pergerakan Armuzna, ia memilih lebih banyak berdiam di kamar hotel, melantunkan talbiyah dan zikir, seraya meminimalkan interaksi dengan hiruk-pikuk di luar.
Keteguhan Supriadi dan Rochani menjadi potret kecil perjuangan jemaah haji Indonesia di ambang puncak ibadah. Di sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah bersama PPIH terus mengintensifkan edukasi perlindungan fisik bagi jemaah. Sengatan panas dan ancaman dehidrasi menjadi musuh nyata. Suhu udara di luar tenda diperkirakan menembus 44 hingga 45 derajat Celsius saat puncak haji berlangsung. Dalam kondisi demikian, menjaga kebugaran bukan lagi sekadar ikhtiar, melainkan syarat utama agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan selamat hingga tuntas, sebuah hadiah tak ternilai setelah melewati ujian Armuzna.