Ketegangan Selat Hormuz Meningkat Pasca Tembakan Peringatan IRGC Iran

Ketegangan Selat Hormuz Meningkat Pasca Tembakan Peringatan IRGC Iran
Foto: Ilustrasi Ketegangan Selat Hormuz Meningkat Pasca Tembakan Peringatan IRGC Iran.

Kondisi keamanan di Selat Hormuz kembali menghadapi eskalasi ketegangan. Dikutip dari Media Indonesia, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan telah melepaskan tembakan peringatan ke arah empat kapal yang mendekati jalur maritim kritis tersebut.

Keterangan resmi mengenai peristiwa ini diunggah melalui akun Telegram yang memiliki afiliasi langsung dengan pihak IRGC. Berdasarkan unggahan tersebut, keempat kapal asing itu terdeteksi berupaya melintasi jalur perairan tanpa melakukan koordinasi ataupun mengantongi izin terlebih dahulu.

Pihak IRGC menyatakan bahwa insiden baku tembak ini menjadi pemicu munculnya suara ledakan yang sempat tertangkap oleh radar pertahanan udara setempat. Jalur Selat Hormuz sendiri merupakan wilayah krusial yang sensitif bagi lalu lintas maritim internasional.

Pada laporan terpisah, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, menyebutkan angkatan bersenjata Iran meluncurkan beberapa rudal dari wilayah selatan. Peluru kendali tersebut diarahkan menuju target yang ditentukan, namun identitas sasaran belum diungkapkan ke publik.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah peluncuran rudal tersebut berkaitan langsung dengan insiden penghentian empat kapal asing. Sebelum peristiwa tembakan peringatan terjadi, tensi diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat juga sudah memanas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam keras operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan stasiun kendali darat di wilayah Bandar Abbas. Baghaei menegaskan bahwa Iran memiliki komitmen kuat untuk mengambil segala langkah pertahanan diri yang diperlukan.

Selain itu, Baghaei melayangkan kritik tajam terhadap pernyataan pejabat Amerika Serikat yang menyasar negara Oman. Ia menilai ancaman sanksi ekonomi yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, kepada Oman merupakan tindakan ilegal.

Persoalan ini berakar dari ancaman Scott Bessent yang akan mengambil jalur hukum melalui Kementerian Keuangan terhadap Oman. Langkah hukum itu mengancam Oman jika negara tetangga Selat Hormuz tersebut mendukung kebijakan tarif tol bagi kapal-kapal yang transit.

Ancaman serupa sebelumnya pernah diutarakan oleh Presiden Donald Trump yang memperingatkan Oman agar tidak mengganggu stabilitas jalur minyak dunia.

"Oman akan bersikap sama seperti orang lain atau kita harus meledakkan mereka," ujar Trump sebelumnya.

Meskipun sempat memicu ketegangan diplomatik, Scott Bessent akhirnya mengonfirmasi bahwa pihak Amerika Serikat telah menerima jaminan langsung dari pemerintah Oman. Oman menyatakan tidak memiliki rencana pemberlakuan tarif tol di wilayah Selat Hormuz.

"I telah menelepon duta besar Oman pagi ini, dan dia meyakinkan saya bahwa tidak ada rencana untuk menarik tol di selat tersebut," kata Bessent kepada wartawan dalam pengarahan di Gedung Putih.

Bessent juga menambahkan bahwa kedua negara berkomitmen menjaga hubungan bilateral yang telah terjalin lama agar tidak terdampak oleh risiko sanksi ekonomi ekonomi global.

"Seperti yang dia katakan, negara kita telah memiliki hubungan baik selama 200 tahun. Dia ingin memilikinya selama 200 tahun lagi, dan, Anda tahu, saya memberi tahu dia bahwa ini adalah hal yang mustahil dilakukan (non-starter), dan dia tidak ingin mengambil risiko warga Oman maupun lembaga keuangan Oman dijatuhi sanksi," lanjut Bessent.

Saat dikonfirmasi mengenai pernyataan keras yang sempat dikeluarkan oleh Donald Trump, Bessent memberikan penjelasan tambahan. Menurutnya, Presiden Amerika Serikat hanya ingin menegaskan kembali krusialnya kebebasan navigasi internasional di perairan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi