Pemerintah Indonesia mematangkan persiapan layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dengan progres kesiapan tenda bagi jemaah di Arafah telah menyentuh angka 90 persen pada Kamis (14/5/2026). Langkah ini diambil guna menjamin kenyamanan jemaah saat melaksanakan wukuf sebagai rukun inti ibadah haji 1447 Hijriah.
Persiapan intensif tersebut mencakup fasilitas akomodasi, pengaturan sistem transportasi bus masyair, hingga skema mitigasi kepadatan massa. Penguatan edukasi juga diberikan kepada jemaah untuk mengantisipasi suhu ekstrem di Arab Saudi, sebagaimana dilansir dari Cahaya.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaf, menjelaskan bahwa peninjauan langsung terus dilakukan terhadap seluruh infrastruktur layanan di fase Armuzna. Fokus utama terletak pada kesiapan logistik dan mobilitas yang menjadi titik paling padat dalam rangkaian haji.
ÔÇ£Saat ini kesiapan tenda di Arafah sudah mencapai 90 persen termasuk layanan transportasi puncak haji yaitu bus masyair yang juga sudah dilakukan peninjauan guna mengatur pergerakan transportasi,ÔÇØ ujar Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaf.
Selain fasilitas tenda, otoritas terkait memberikan atensi besar pada pergerakan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina. Satuan operasi telah menyusun berbagai skenario perjalanan untuk meminimalisir risiko kemacetan parah di jalur-jalur utama.
ÔÇ£Terutama dari Arafah ke Muzdalifah maupun juga dari Muzdalifah menuju ke Mina,ÔÇØ kata Maria Assegaf.
Pemerintah turut menyoroti aspek ketahanan fisik jemaah mengingat suhu di Makkah dapat menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Jemaah diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan mulai melatih fisik dengan berjalan kaki sesuai kemampuan masing-masing.
ÔÇ£Haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik yang baik,ÔÇØ tutur Maria Assegaf.
Penekanan pada pengaturan stamina ini bertujuan agar jemaah tidak mengalami dehidrasi atau kelelahan panas selama puncak haji. Larangan beraktivitas berat pada siang hari menjadi poin krusial yang terus disosialisasikan kepada para jemaah.
ÔÇ£Kami mengimbau agar jemaah membatasi aktivitas yang tidak mendesak terutama di siang hari saat suhu udara sangat tinggi,ÔÇØ ungkap Maria Assegaf.
Bagi kelompok jemaah lanjut usia dan risiko tinggi, pemerintah meminta adanya komunikasi aktif dengan petugas jika merasakan gangguan kesehatan ringan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kondisi fisik memburuk akibat paparan panas dan kelelahan.
ÔÇ£Jangan menunggu kondisi memburuk apabila mengalami keluhan kesehatan seperti misalnya merasakan lemas, pusing, maupun sesak nafas, demam ataupun dehidrasi langsung komunikasikan hal ini kepada petugas setempat,ÔÇØ kata Maria Assegaf.