Kepadatan Ekstrem di Tambora Picu Risiko Bencana dan Konflik Sosial

Kepadatan Ekstrem di Tambora Picu Risiko Bencana dan Konflik Sosial
Foto: Ilustrasi Kepadatan Ekstrem di Tambora Picu Risiko Bencana dan Konflik Sosial.

Kecamatan Tambora di Jakarta Barat menghadapi ancaman serius berupa bencana kebakaran, banjir, hingga kerentanan penyakit akibat kepadatan penduduk yang ekstrem pada Jumat (8/5/2026). Dilansir dari Megapolitan, kondisi lingkungan yang sangat berhimpitan ini dinilai memperparah risiko sosial dan kesehatan warga setempat.

Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI) Muh Azis Muslim menjelaskan bahwa letak hunian yang saling menempel membuat api sangat cepat merambat jika terjadi korsleting listrik. Selain itu, akses yang sempit menjadi hambatan utama bagi petugas pemadam kebakaran untuk menjangkau lokasi titik api di dalam permukiman.

"Dampak fatal ini harus ditanggung oleh warga setiap harinya, mulai dari kerentanan terhadap bencana seperti kebakaran, hingga tingginya angka konflik sosial," ujar Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Azis menekankan bahwa satu insiden kecil di kawasan ini memiliki potensi dampak yang sangat destruktif bagi seluruh lingkungan di sekitarnya.

"Satu pemicu kecil saja bisa menghanguskan satu kawasan padat, terlebih akses mobil pemadam kebakaran sangat sulit menjangkau titik api," kata Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Persoalan lingkungan di Tambora juga mencakup minimnya area resapan air yang memicu banjir saat musim penghujan. Kurangnya ruang terbuka hijau dan sirkulasi udara yang buruk turut menjadi faktor utama penyebaran penyakit menular di wilayah tersebut.

"Selain itu, ketiadaan ruang terbuka membuat area resapan air menjadi sangat langka, sehingga memicu ancaman banjir saat musim penghujan," ujar Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Masalah sanitasi yang buruk di kawasan padat ini sering kali berujung pada munculnya kasus kesehatan serius seperti tuberkulosis yang diderita oleh masyarakat lokal.

"Berbagai macam penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan sirkulasi udara yang buruk, di antaranya Tuberkulosis (TBC) dan diare, sering kali muncul menjangkiti warga," katanya Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Sejarah kepadatan Tambora berakar dari posisinya yang dekat dengan pusat ekonomi lama Jakarta, sehingga menarik minat pendatang untuk bermukim selama ratusan tahun. Sebagian besar kelurahan di wilayah ini kini masih menyandang status sebagai kawasan kumuh menurut regulasi terbaru.

"Mereka merasa ada penghidupan di situ, sehingga muncul kantong-kantong hunian dari para pendatang yang mengadu nasib," ujar Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Camat Tambora Pangestu Aji turut memberikan pandangan mengenai asal-usul wilayah tersebut yang berkembang dari pinggiran pusat perdagangan pelabuhan.

"Awalnya Jakarta itu kan bermula dari Sunda Kelapa, pelabuhan, pusat perdagangan di Kota Tua, Tamansari, Glodok. Nah, di Tambora ini adalah tepi-tepinya," kata Pangestu Aji, Camat Tambora.

Kritik juga diarahkan pada kebijakan pembangunan masa lalu yang dinilai hanya terpusat pada kawasan bisnis modern di Jakarta. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah pesisir lama seperti Tambora kehilangan perhatian dalam perencanaan tata kota.

"Penataan kota modern itu cenderung fokus di wilayah Segitiga Emas, baik di Sudirman, Thamrin, dan Kuningan. Ini yang membuat Tambora tidak lagi dilirik," ucap Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Sebagai langkah pencegahan di masa depan, pendekatan persuasif tanpa penggusuran paksa dianggap menjadi kunci utama dalam melakukan pembenahan wilayah Tambora secara efektif.

"Cara-cara gusur tanpa dialog ini menjadi satu hal yang memang harus dihindari. Warga merasa kehidupannya memang ada di Tambora," kata Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI).

Artikel terkait

Rekomendasi