Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan harga minyak goreng di 207 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia pada pekan ketiga April 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 57,50 persen wilayah di tanah air terdampak oleh pergerakan harga komoditas pangan ini.
Kenaikan harga ini disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara virtual pada Senin (20/4/2026). Dilansir dari Detik Finance, harga rata-rata nasional kini merangkak naik ke angka Rp 19.592 per liter.
"Minyak goreng mengalami peningkatan 1,21% (dibanding Maret 2026)," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Ateng menjelaskan bahwa sebaran kenaikan harga minyak goreng pada periode ini jauh lebih luas dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Kondisi ini terpantau melalui pemantauan rutin yang dilakukan pihak BPS di berbagai daerah.
"Minyak goreng ini peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten/kota. Pada minggu kedua itu hanya 177 kabupaten/kota, sekarang menjadi 207 kabupaten/kota, jadi peningkatannya cukup banyak sekali," ucap Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Berdasarkan data BPS, Kabupaten Intan Jaya di Papua mencatatkan harga tertinggi yang mencapai Rp 60 ribu per liter. Sebaliknya, harga terendah ditemukan sebesar Rp 15.500 per liter, sementara produk Minyakita dibanderol Rp 15.982 per liter atau sedikit melampaui harga eceran tertinggi (HET).
Menanggapi tren kenaikan tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan penjelasan mengenai faktor penyebab di balik perubahan harga di pasar. Hal ini disampaikan saat dirinya meninjau lokasi pameran di Jakarta Pusat pada Kamis (16/4).
"Ya ada sedikit juga naik karena kan imbas dari kemasannya plastik semua," kata Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Pemerintah menegaskan bahwa fluktuasi harga ini tidak berkaitan dengan ketersediaan barang di lapangan. Budi Santoso melakukan pemantauan langsung ke sektor ritel untuk memastikan distribusi barang tetap berjalan normal bagi konsumen.
"Saya kemarin ke ritel modern, minyak goreng banyak. Jadi nggak ada namanya minyak goreng itu langka," tegas Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Meskipun terdapat kenaikan harga yang dipicu oleh biaya kemasan plastik, Kementerian Perdagangan mengklaim bahwa stok minyak goreng masih melimpah di masyarakat.