Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi Picu Kekhawatiran Kelangkaan Gas Melon

Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi Picu Kekhawatiran Kelangkaan Gas Melon
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga Elpiji Nonsubsidi Picu Kekhawatiran Kelangkaan Gas Melon.

Warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi kelangkaan gas 3 kg bersubsidi menyusul adanya kenaikan harga elpiji nonsubsidi pada Senin (20/4/2026). Perubahan harga ini diprediksi akan memicu migrasi konsumen dari gas nonsubsidi ke tabung melon yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.

Dilansir dari Megapolitan, seorang warga bernama Dimas (28) menilai kenaikan harga pada varian 5,5 kg dan 12 kg secara otomatis akan berdampak pada ketersediaan stok gas subsidi di pasaran. Selain faktor perpindahan konsumsi, risiko praktik kecurangan oleh oknum penjual turut menjadi perhatian utama masyarakat saat ini.

"Sebenernya yang khawatir itu nanti kalau yang 12 kg sama 5,5 kg naik, yang 3 kg subsidi malah jadi langka. Karena bisa jadi banyak yang sudah enggak pakai jadi balik lagi gitu," ucap Dimas.

Keresahan tersebut didasari oleh banyaknya informasi yang beredar di media sosial mengenai modus kejahatan pengisian ilegal. Dimas menyebut bahwa disparitas harga yang tinggi berpotensi meningkatkan kasus penyuntikkan isi tabung bersubsidi ke tabung nonsubsidi demi keuntungan pribadi penjual.

"Saya baru baca-baca di sosmed, lagi ramai dibahas praktik pengoplosan gas, jadi yang 3 kg kan dioplos ke 5,5 kg biar dijualnya lebih mahal," kata Dimas.

Lemahnya pengawasan pada jalur distribusi gas subsidi di tingkat agen menjadi poin kritik masyarakat karena dianggap membiarkan praktik pengoplosan terjadi tanpa kontrol ketat. Kondisi pencarian gas 3 kg yang saat ini sudah mulai sulit dikhawatirkan akan semakin memburuk di masa mendatang.

"Sekarang aja udah susah nyari gas 3 kg, apalagi kalau nanti gitu," kata Dimas.

Dimas berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok dan menjaga ketersediaan energi subsidi agar tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

"Semoga yang lain enggak ikut naik, terus kalau bisa yang subsidi tetap ditahan gitu jangan sampai naik juga, takutnya jadi chaos kalau subsidi juga naik," tutur Dimas.

Di sisi lain, konsumen elpiji nonsubsidi lainnya seperti Vivi mulai mengatur strategi pengeluaran rumah tangga akibat daya beli yang tergerus mahalnya harga pangan pokok. Meskipun merasa terbebani, Vivi tetap berkomitmen tidak beralih ke gas melon karena memahami aturan peruntukannya.

"Kalau ibu-ibu ya ngeluh pasti, tapi kan mau enggak mau tetap dibeli, karena kan tetap butuh. Kalau pakai 3 kg juga kebanyakan ganti-ganti nya, cepat habis," ucap Vivi.

Bagi Vivi, persoalan mendasar terletak pada efek domino kenaikan gas dan BBM yang biasanya diikuti oleh lonjakan harga komoditas pangan lainnya di pasar. Ia mencatat sejumlah bahan pokok belum menunjukkan tren penurunan harga sejak momen Idulfitri lalu.

"Kayak ayam, cabai, daging, itu naik dari mau Lebaran sampai sekarang belum turun, semuanya ikut naik malah," ucap Vivi.

Artikel terkait

Rekomendasi