PT Pertamina (Persero) memberlakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai Sabtu, 18 April 2026. Kebijakan ini mencakup kenaikan harga signifikan pada jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertalite serta Biosolar tetap stabil.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pengeluaran harian masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan yang mengutamakan performa mesin. Dilansir dari Megapolitan, sejumlah pengendara di Jakarta Pusat mengaku terkejut dengan perubahan harga yang terjadi secara mendadak pada akhir pekan tersebut.
Rizki, seorang pengendara berusia 25 tahun, menyatakan kekagetannya setelah membaca informasi mengenai perubahan tarif bahan bakar yang ia gunakan sehari-hari. Ia menuturkan bahwa kenaikan ini akan menambah beban operasionalnya secara signifikan.
"Tadi saya baca berita. Waduh, saya ngelus dada juga BBM naik. Saya pakai Pertamax Turbo," tutur Rizki saat ditemui di Petamburan, Jakarta Pusat, Sabtu (18/4/2026).
Pria yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek online ini mengkalkulasi bahwa biaya operasionalnya bisa membengkak dari Rp 80.000 menjadi hampir Rp 100.000 per hari. Rizki memilih Pertamax Turbo karena menilai bahan bakar tersebut lebih aman dan ringan untuk performa mesin kendaraannya.
"Biasanya saya sehari beli itu pas belum naik Rp 80.000 untuk motor ini. Kalau naik nanti bisa Rp 90.000 atau mendekati Rp 100.000 sehari," imbuh Rizki.
Ia berharap ada penyesuaian tarif layanan transportasi daring seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar nonsubsidi. Hal ini dianggap perlu agar pendapatan bersihnya tidak tergerus oleh biaya bensin yang semakin mahal.
"Saya juga sampingan ojek online kan, jadi biar lancar mesinnya. Kalau naik begini, semoga tarif ojol naik juga," tutur Rizki.
Guna menyiasati kenaikan biaya tersebut, Rizki berencana menambah durasi jam kerjanya saat menarik ojek online. Biasanya ia berhenti pada pukul 21.00 WIB, namun kini mempertimbangkan untuk bekerja hingga tengah malam.
"Karena saya bekerja dan narik ojol makanya habis bensin banyak. Mungkin nanti narik ojol akan lebih ngoyo setelah BBM naik," kata Rizki.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pihak pengelola SPBU telah melakukan langkah antisipasi untuk meminimalisir keluhan konsumen. Eka, Kepala Shift di SPBU Abdul Muis, menjelaskan bahwa informasi penyesuaian harga baru diterima pihak manajemen pada Sabtu dini hari pukul 01.00 WIB.
"Kita kasih tahu dulu sebelum pengisian, biar enggak kaget," ujar Eka saat dijumpai di lokasi.
Petugas SPBU secara aktif mensosialisasi harga baru kepada setiap pembeli sebelum nosel pengisian digunakan. Menurut Eka, langkah preventif ini efektif untuk menghindari kesalahpahaman terkait jumlah liter yang didapat konsumen.
"Rata-rata memang pada kaget. Oleh karenanya kita bantu sampaikan dulu. Tujuan kami juga untuk mengindari komplain ya," tutur Eka.
Meskipun ada gejolak harga, volume penjualan di SPBU Abdul Muis terpantau masih stabil, terutama untuk kendaraan roda dua dan kendaraan dinas plat merah. Eka menilai selisih harga untuk pengisian penuh tangki sepeda motor masih dianggap terjangkau oleh sebagian besar pelanggan.
"Pertamax Turbo kan kenaikan masih terjangkau. Satu motor kan full itu 3 liter. Jadi masih pada beli," ungkap Eka.
Faktor hari libur akhir pekan dan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) juga disebut turut memengaruhi pola konsumsi BBM di wilayah tersebut. Penjualan sejauh ini tidak mengalami penurunan drastis meskipun harga telah diperbarui.
"Umumnya memang penjualan di sini stabil. Karena kan weekend dan juga ada WFH," jelas Eka.
| Jenis BBM | Harga Lama (per Liter) | Harga Baru (per Liter) | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Pertamax Turbo | Rp 13.100 | Rp 19.400 | Rp 6.300 |
| Dexlite | Rp 14.200 | Rp 23.600 | Rp 9.400 |
| Pertamina Dex | Rp 14.500 | Rp 23.900 | Rp 9.400 |
Data resmi dari laman Pertamina menunjukkan kenaikan tertinggi dialami oleh produk diesel yakni Dexlite dan Pertamina Dex sebesar Rp 9.400 per liter. Untuk BBM subsidi, pemerintah memastikan harga Pertalite tetap di angka Rp 10.000 per liter dan Biosolar subsidi tetap Rp 6.800 per liter.