Kenaikan Harga BBM Mulai Tekan Biaya Operasional PTP Nonpetikemas

Kenaikan Harga BBM Mulai Tekan Biaya Operasional PTP Nonpetikemas
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga BBM Mulai Tekan Biaya Operasional PTP Nonpetikemas.

PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) melaporkan peningkatan beban biaya operasional perusahaan akibat melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Rabu (29/4/2026). Kenaikan ini berdampak langsung pada operasional alat-alat berat pelabuhan yang masih sangat bergantung pada pasokan BBM.

Dilansir dari Detik Finance, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PTP Nonpetikemas Dwi Rahmad Toto mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak memberikan pengaruh signifikan dibandingkan dengan lonjakan harga energi domestik. Biaya bahan bakar saat ini tercatat mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dari harga sebelumnya.

"(Konflik) Iran, Israel, dan Amerika ini tidak terlalu signifikan sebetulnya ya. Tapi ini mulai terasa nih, karena dampaknya BBM mulai naik ya. Operasional cost kita meningkat. BBM yang tadinya di bawah ini itu sudah dua kali lipat," ujar Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Manajemen saat ini sedang mendalami pengaruh finansial secara menyeluruh untuk menentukan kebijakan perusahaan ke depan. Hingga kini, belum ada angka pasti mengenai total kerugian atau beban finansial karena proses penghitungan masih terus berjalan di internal korporasi.

"Jadi memang kalau dioperasional pasti terasa, tapi kita sedang mengkaji dampak secara korporasi secara keseluruhan," kata Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Potensi penyesuaian tarif logistik dan biaya angkut kapal kini sedang dipertimbangkan sebagai respons atas tekanan biaya tersebut. Namun, PTP Nonpetikemas harus berkoordinasi ketat dengan Kementerian Perhubungan selaku regulator sebelum menetapkan kebijakan tarif baru agar tidak memberatkan masyarakat luas.

"Misalnya ada penyesuaian tadi atau penerapan surcharge tentunya nanti kita koordinasi dengan regulator untuk penerapan. Dampaknya ini kan besar nih. Kita naik sedikit mungkin nanti dampaknya ke masyarakat seperti apa," kata Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Di sisi kinerja volume, perusahaan mencatatkan tren positif pada triwulan I 2026 dengan total bongkar muat mencapai 12,44 juta ton. Pencapaian ini melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 sebesar 103,33 persen atau tumbuh 3,84 persen secara tahunan.

"ini sampai dengan triwulan I 2026 kita sudah naik sekitar 3%," ujar Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Pertumbuhan kinerja ini ditopang oleh segmen curah cair yang melonjak 16 persen menjadi 3,09 juta ton berkat ekspor CPO di Cabang Teluk Bayur dan Pontianak. Dwi menambahkan bahwa aktivitas di Pelabuhan Kijing juga berkontribusi besar pada kenaikan volume di sektor tersebut.

"Curah cair tumbuh sangat besar 16%, itu di Teluk Bayu, juga ada di Kijing," terang Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Selain itu, sektor curah kering mengalami kenaikan sebesar 10 persen yang dipicu oleh bongkar muat pasir di Tanjung Priok serta muatan PKE di Pelabuhan Dwikora. Komoditas lain seperti bauksit, batu bara, dan alumina juga menunjukkan peningkatan aktivitas bongkar muat yang signifikan.

"Untuk curah kering kegiatan pembongkoran pasir dan beberapa komunditi impor," pungkas Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok.

Artikel terkait

Rekomendasi