Kementerian Sosial RI bersama AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menyelenggarakan aksi nyata untuk menghapus stigma negatif menstruasi di Sentra Handayani, Jakarta, pada Senin (25/5/2026). Langkah yang dilansir dari Media Indonesia ini bertujuan mendorong akses sanitasi aman dan produk kesehatan terjangkau demi memperingati Hari Kesehatan Menstruasi setiap 28 Mei.
Upaya kolaboratif tersebut dinilai krusial untuk menjaga kesehatan reproduksi sekaligus menekan kerentanan perempuan terhadap penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Rangkaian edukasi kesehatan hingga hiburan ini menyasar siswa SMP dan SMA di Sekolah Rakyat Sentra Handayani serta Sentra Mulya Jaya Jakarta yang disiarkan secara daring.
Kepala Biro Asia AHF, Dr. Chhim Sarath, menyatakan bahwa budaya bungkam serta stigma di Asia masih menghalangi perempuan memperoleh informasi kesehatan akurat. Ketidakmampuan mengelola menstruasi dengan aman dipandang memiliki dampak yang sistemik bagi kaum perempuan.
"Ketika seseorang tidak dapat mengelola menstruasinya secara aman, dampaknya tidak hanya sebatas rasa tidak nyaman. Situasi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap HIV dan penyakit IMS lainnya," ujar Dr. Chhim Sarath.
Pihak AHF juga memberikan apresiasi kepada sejumlah negara Asia yang sudah menghapuskan pajak untuk produk-produk menstruasi. Dr. Chhim Sarath kemudian mendesak negara-negara lain agar mengambil kebijakan serupa demi memperluas akses bagi masyarakat luas.
Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dan ODHIV Kemensos RI, Anna Puspasari, turut menjelaskan bahwa literasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi fondasi penting bagi harga diri remaja.
"Remaja yang percaya diri dan teredukasi cenderung memiliki benteng pertahanan yang kokoh untuk menolak segala bentuk risiko sosial, termasuk bahaya penyalahgunaan Napza dan penularan HIV," tutur Anna Puspasari.
Kemiskinan menstruasi atau period poverty kerap memaksa perempuan dalam kondisi ekonomi sulit masuk ke dalam hubungan transaksional demi pemenuhan produk sanitasi. Masalah ini berdampak langsung pada berkurangnya posisi tawar mereka saat menegosiasikan hubungan seksual aman, sehingga memicu risiko infeksi.
Sebagai langkah solutif jangka panjang, AHF Indonesia terus memperkuat program pemberdayaan perempuan muda bernama Girls Act. Program ini memfasilitasi anak perempuan untuk mengelola kesehatan secara bermartabat sekaligus menyediakan akses layanan esensial seperti tes dan pengobatan HIV terintegrasi.
| Kategori | Statistik Global |
|---|---|
| Populasi Mengalami Menstruasi | Hampir 2 Miliar Orang |
| Menghadapi Kemiskinan Menstruasi | Sekitar 500 Juta Orang |
| Hambatan Utama | Stigma, Pajak Produk, & Fasilitas Minim |
| Dampak Sosial | Putus Sekolah & Kerentanan Ekonomi |