Mobil listrik diproyeksikan bakal menjadi mesin pertumbuhan baru bagi sektor otomotif nasional di masa mendatang. Dilansir dari Detik Finance, penjualan kendaraan ramah lingkungan ini diramal meningkat pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Tren tersebut diperkuat oleh semakin tipisnya selisih harga antara mobil listrik dengan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Selain itu, inovasi teknologi membuat jarak tempuh EV kini makin jauh hingga mencapai 600 kilometer dalam sekali pengisian baterai penuh.
Penguatan adopsi kendaraan listrik diyakini mampu menekan konsumsi serta impor BBM di tengah gejolak harga energi global akibat konflik geopolitik. Langkah ini sekaligus menjadi strategi penting dalam memperkokoh ketahanan energi nasional di masa depan.
Andrea Suhendra selaku CEO Degree Synergy International menyebutkan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik tetap berada pada level tinggi. Namun, ia menekankan perlunya regulasi yang tepat untuk menjaga gairah pasar di tengah dinamika kebijakan daerah.
Ia mengusulkan adanya penerapan tarif pajak progresif yang disesuaikan dengan nilai jual kendaraan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Skema ini diharapkan dapat memberikan keadilan bagi berbagai segmen konsumen otomotif di Indonesia.
"Sebaiknya Pemda memberlakukan tarif pajak progresif. Contohnya, BEV di atas Rp 500 juta dikenakan tarif lebih tinggi, sedangkan di bawah itu sebaiknya rendah," ujar Andrea dalam diskusi di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rabu (22/4/2026).
Penerapan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama (BBNKB) mulai 1 April 2026 sesuai Permendagri No. 11 Tahun 2026 dinilai sempat memicu guncangan pasar. Meski demikian, efisiensi biaya operasional mobil listrik dibanding pembelian BBM diprediksi tetap menjadi daya tarik utama.
Kapasitas Produksi dan Pertumbuhan Populasi EV
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menyatakan pihaknya terus memacu ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Hingga saat ini, total investasi di sektor ini telah menembus angka Rp 25,674 triliun.
Berdasarkan data Kemenperin, Indonesia kini memiliki 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas 409.860 unit per tahun. Sektor pendukung lainnya mencakup 68 produsen sepeda motor listrik dan sembilan perusahaan bus listrik berskala besar.
Populasi kendaraan listrik di tanah air hingga Maret 2026 tercatat telah mencapai 358.205 unit. Angka tersebut didominasi oleh 236.451 unit motor listrik dan 119.638 unit mobil penumpang, disusul oleh bus serta kendaraan komersial lainnya.
"Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional," ungkap Setia.
Komitmen Produsen Global di Pasar Domestik
Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan, menegaskan visi perusahaannya selaras dengan target pemerintah dalam mereduksi emisi karbon. BYD berkomitmen memperkuat rantai nilai industri EV, mulai dari pasokan produk hingga pembangunan pabrik.
Hingga saat ini, jaringan distribusi mereka telah menjangkau 48 kota melalui 84 dealer resmi. Luther menekankan bahwa ekspansi bisnis yang dilakukan berbasis pada penguatan industri manufaktur di dalam negeri.
"Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin bangun value chain. Dari sisi jaringan, kami kini memiliki 84 dealer di 48 kota," tegas Luther.
Pada Maret 2026, penjualan BYD dilaporkan melonjak 65% dengan penguasaan pasar mencapai 41% di Indonesia. Capaian ini sejalan dengan posisi mereka yang merajai pasar EV global selama empat tahun berturut-turut, didukung oleh produk seperti Atto 1 dan M6.