Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan surat edaran terkait kewaspadaan terhadap virus Nipah pada awal Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas potensi ancaman infeksi yang dapat memicu gangguan pernapasan akut hingga peradangan otak fatal.
Hingga saat ini, dilansir dari Caritahu, Kemenkes melaporkan bahwa belum ditemukan kasus virus Nipah yang menginfeksi manusia di wilayah Indonesia. Meski demikian, risiko penularan tetap ada akibat faktor kedekatan geografis serta tingginya pergerakan manusia antarnegara.
Kemenkes juga menyoroti adanya bukti deteksi virus dan hasil serologis pada kelelawar buah di Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa potensi sumber penularan sudah ada di lingkungan sekitar, sehingga kewaspadaan dini menjadi sangat krusial.
Menurut WHO, virus Nipah merupakan patogen yang berasal dari kelelawar buah dan dapat menular ke hewan ternak seperti babi. Wabah perdana virus ini tercatat terjadi pada periode 1998-1999 di desa Sungai Nipah, Malaysia, yang menyerang para peternak babi.
Hewan ternak yang terjangkit biasanya menunjukkan tanda-tanda klinis berupa demam, kesulitan bernapas, hingga kejang. Selain Malaysia, persebaran kasus juga pernah tercatat di Singapura, India, Bangladesh, hingga Filipina dalam kurun waktu yang berbeda.
Penebangan hutan yang merusak habitat alami memaksa kelelawar buah mendekati area pemukiman dan peternakan. Kondisi ini memperbesar peluang perpindahan virus dari hewan liar ke ternak, yang kemudian berlanjut ke manusia sebagai inang terakhir.
Masa Inkubasi dan Gejala Klinis
Berdasarkan data Kemenkes, virus Nipah memiliki masa inkubasi yang berkisar antara 4 hingga 14 hari sebelum gejala mulai tampak. Pasien yang terinfeksi umumnya akan merasakan sejumlah gangguan kesehatan fisik yang berkembang secara bertahap.
Beberapa gejala awal yang sering muncul meliputi demam, sakit kepala, batuk, nyeri otot, serta sakit tenggorokan. Selain itu, penderita mungkin mengalami sesak napas, muntah, hingga kesulitan untuk menelan makanan atau minuman.
Kondisi dapat memburuk jika terjadi peradangan otak atau ensefalitis. Gejala serius lainnya yang perlu diwaspadai adalah rasa kantuk berlebihan, disorientasi, sulit berkonsentrasi, serta terjadinya perubahan suasana hati yang sangat drastis.
Langkah Pencegahan dan Risiko Kematian
Tingkat fatalitas atau kematian akibat virus Nipah tergolong sangat tinggi, yakni mencapai rentang 40 persen hingga 75 persen. Meskipun pada tahun 2026 sempat ditemukan dua kasus di India yang tidak berakhir dengan kematian, risiko virus ini tetap tidak boleh disepelekan.
Upaya pencegahan utama adalah dengan memastikan daging dimasak hingga matang sempurna dan mencuci buah serta sayuran sebelum dikonsumsi. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti darah, urin, atau air liur.
Peternak diwajibkan menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan kandang, serta masyarakat diimbau menghindari makanan yang terkontaminasi hewan liar. Mencuci tangan secara rutin dengan sabun setelah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit tetap menjadi proteksi mendasar yang efektif.