Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkap adanya indikasi kelebihan jam kerja dan upaya manipulasi jadwal presensi dalam kasus kematian dokter internship dr. Myta Aprilia Azmi (MAA) di Jambi. Investigasi internal menemukan oknum dokter organik diduga sengaja menutupi fakta beban kerja peserta internship di RSUD Kuala Tungkal.
Pelaksana Tugas Inspektorat Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Supatra, menyampaikan hasil temuan tersebut dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes RI pada Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Detik Health, tim investigasi memperoleh bukti adanya instruksi melalui pesan singkat kepada peserta untuk mengubah ketentuan giliran jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dokter pendamping berinisial J diketahui meminta peserta internship untuk menyunting jadwal guna menciptakan persepsi bahwa durasi kerja berlangsung normal. Praktik ini dibarengi dengan tekanan agar sejumlah peserta menandatangani jadwal tersebut sebagai bentuk persetujuan bersama.
"Coba aku lihat jadwal," beber J (dokter pendamping).
Menanggapi permintaan tersebut, salah satu peserta internship segera menyiapkan dokumen yang diminta melalui perangkat komputer.
"Baik dokter, jadwalnya di laptop, saya ambil dulu," balas salah satu peserta internship.
Instruksi untuk mengubah data kehadiran kemudian diberikan secara spesifik untuk area pelayanan gawat darurat.
"Kalau bisa jadwal diedit buat yang 3 shift yang di IGD," pinta J.
Pihak peserta sempat memberikan informasi bahwa proses penyuntingan dokumen tersebut memerlukan waktu tambahan.
"Kalau mau diedit agak lama dokter," respons peserta terkait.
Rudi Supriatna menjelaskan bahwa dokter internship sering kali harus bekerja melampaui batas waktu yang ditentukan tanpa pendampingan yang layak. Hal ini diperparah dengan absennya dokter organik dari ruang jaga saat jam pelayanan berlangsung.
"Dalam praktiknya peserta rata-rata tuh pulang lebih dari jam 2, bahkan ada sampai jam 4 sore," sorot Rudi dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes RI, Kamis (7/5/2026).
Selain masalah waktu kerja, ditemukan adanya pelimpahan tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewenangan dokter tetap kepada para peserta internship.
"Jadi selama bertugas di stase IGD, terutama malam hari, ini ada oknum dokter berdasarkan keterangan yang kami dapatkan, ini yang lebih mengandalkan ke dokter peserta internship, untuk menangani pasien dengan alasan agar lebih banyak belajar," ungkap Rudi.
Pihak kementerian juga menemukan ketidaksesuaian mengenai hak fasilitas dan tunjangan yang diterima para dokter muda tersebut. Janji penggantian biaya kos selama 12 bulan hanya direalisasikan selama lima bulan oleh pihak rumah sakit.
"Bantuan biaya hidup yang diterima dokter internship di sana, di RSUD Kuala Tungkal itu 3 jutaan per bulan ya, tanpa insentif tambahan jasa lainnya. Namun berdasarkan keterangan yang kami dapatkan, pernah diberikan uang sebesar Rp 1,7 jutaan untuk penggantian biaya kos selama 5 bulan. Tapi yang janjikan sebetulnya oleh pihak rumah sakit itu ada sampai 12 bulan biaya penggantian kos," beber dia.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kemenkes RI, dr. Yuli Farianti, menyatakan bahwa peran dokter pendamping tidak berjalan semestinya di wahana tempat dr. MAA bertugas. Ia menyoroti padatnya jadwal yang mengakibatkan para peserta tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.
"Pendamping memadatkan jadwal, tidak ada waktu istirahat, 7 hari itu dia selalu masuk," jelas dr. Yuli, dalam kesempatan yang sama.
Temuan di lapangan juga menunjukkan bahwa dr. MAA dan rekan-rekannya sering dibiarkan menangani pasien IGD sendirian tanpa bimbingan teknis.
"Dokter M bersama teman-temannya kadang-kadang pasien itu di IGD dikerjakan sendiri," lanjutnya.
Kemenkes juga menyesalkan perbedaan fasilitas ruang jaga antara dokter organik dan internship, di mana standar kelayakan tempat istirahat tidak terpenuhi di RSUD Kuala Tungkal.
"Satu lagi yang sebenarnya ada di dalam pedoman, wahana menyiapkan ruang jaga yang memadai. Rupanya di RSUD Kuala Tungkal, dokter organik tidur di atas, dokter internshipnya tidur di bawah," sesal dia.
Kondisi dr. MAA saat jatuh sakit juga disebut tidak mendapatkan perhatian medis yang layak dari dokter pendamping meski dalam keadaan lemah.
"Alangkah sedihnya, tahu panas, dia cuma diinfus, di tempat jaga pada saat duduk, dan tiang infus hanya ada di jendela," bebernya.