Kemenkes dan Sysmex Indonesia Perkuat Deteksi Dini Talasemia Mayor

Kemenkes dan Sysmex Indonesia Perkuat Deteksi Dini Talasemia Mayor
Foto: Ilustrasi Kemenkes dan Sysmex Indonesia Perkuat Deteksi Dini Talasemia Mayor.

Tantangan kesehatan serius masih dihadapi Indonesia terkait penanganan talasemia. Seperti dilansir dari Medcom, sekitar 2.500 bayi di dalam negeri terlahir dengan kondisi talasemia mayor pada setiap tahunnya.

Penyakit kelainan darah genetik ini mewajibkan para penderitanya untuk mendapatkan tindakan transfusi darah secara rutin sepanjang hidup mereka. Padahal, risiko penularan penyakit ini sebenarnya bisa dicegah melalui deteksi dini sebelum masa pernikahan atau kehamilan.

Merespons situasi tersebut, Sysmex Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Palang Merah Indonesia, BPJS Kesehatan, dan Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia.

Sinergi ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan bertajuk United for Thalassemia demi memperingati World Thalassemia Day 2026 yang jatuh pada 8 Mei. Program ini mengadopsi tema global Hidden No More: Finding the Undiagnosed, Supporting the Unseen yang berfokus memperluas edukasi pencegahan.

Talasemia merupakan sebuah bentuk kelainan genetik yang mengganggu proses pembentukan hemoglobin. Hemoglobin sendiri adalah protein di dalam sel darah merah yang berfungsi mengedarkan oksigen menuju seluruh bagian tubuh.

Gumpalan sel darah merah pada penderita menjadi lebih rapuh dan mudah rusak, sehingga memicu kondisi anemia dengan tingkat keparahan bervariasi. Pada kategori talasemia minor, pengidapnya cenderung tidak bergejala atau hanya mengalami anemia skala ringan.

Sebaliknya, pengidap talasemia mayor sangat bergantung pada pasokan transfusi darah berkala demi menjaga stabilitas kondisi fisiknya. Data kesehatan menunjukkan populasi di Indonesia membawa sifat talasemia alfa sebesar 2,6 hingga 11 persen, dan pembawa sifat talasemia beta berkisar 3 hingga 10 persen.

Selain itu, terdapat sekitar 1,5 hingga 36 persen populasi yang membawa sifat HbE yang berisiko memicu gangguan darah keturunan. Mayoritas pembawa sifat ini terlihat bugar dan tidak menyadari status kesehatannya karena absennya gejala klinis yang kasat mata.

Urgensi Pemeriksaan dan Ketersediaan Stok Darah

Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya peningkatan pemahaman publik dalam skema pengendalian penyakit ini.

"Deteksi dini, edukasi, dukungan terhadap penyandang talasemia, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah bagian penting dalam memperkuat penanggulangan talasemia di Indonesia. Tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antar generasi, padahal risiko ini dapat dikenali lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat," ujarnya.

Pemeriksaan darah sangat dianjurkan bagi kelompok usia remaja, pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan, serta individu yang memiliki garis keturunan pengidap talasemia.

Langkah penanggulangan juga diiringi dengan pemenuhan logistik medis. Sysmex Indonesia menggelar kegiatan webinar nasional pada 19 Mei, kampanye digital pada 16ÔÇô30 Mei 2026, serta aksi donor darah untuk menjamin ketersediaan pasokan bagi pasien talasemia mayor.

Penatalaksanaan medis penyakit ini memerlukan penanganan yang komprehensif. Perawatan menyeluruh tersebut mencakup aspek skrining, ketepatan diagnosis, terapi kelasi besi, transfusi darah periodik, hingga pemberian dukungan psikososial.

Artikel terkait

Rekomendasi