Kementerian Kesehatan memastikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus Ebola di seluruh wilayah Indonesia. Langkah proaktif segera diambil pemerintah demi merespons keputusan Organisasi Kesehatan Dunia yang menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada 17 Mei 2026 akibat lonjakan kasus di Republik Demokratik Kongo.
Dilansir dari Media Indonesia, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa ketetapan status darurat dari WHO memicu perlunya kewaspadaan global meskipun infeksi ini belum menjadi pandemi. Keputusan tersebut didasarkan pada penyebaran lintas wilayah, tingginya angka kematian, serta ketidakpastian cakupan wabah di Afrika Tengah.
Data resmi menunjukkan wabah di Provinsi Ituri disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Hingga 16 Mei 2026, tercatat ada 246 kasus suspek yang meliputi 8 kasus konfirmasi dan 80 korban meninggal dunia dengan tingkat fatalitas mencapai 32,5 persen. Mobilitas penduduk yang tinggi dan keterbatasan fasilitas kesehatan memicu penyebaran sekunder hingga ke Kampala dan Kinshasa.
"Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,ÔÇØ kata Aji dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (20/5).
Aji menguraikan bahwa tindakan nyata di lapangan mencakup penyiagaan petugas medis, pengetatan skrining penumpang, serta penyiapan jalur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional jika ditemukan gejala mengarah Ebola. Seluruh data dari pintu masuk negara terintegrasi penuh selama 24 jam via Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons serta pusat operasi darurat kesehatan.
Laboratorium nasional juga berada dalam kondisi siaga penuh guna mempercepat deteksi dini dan respons cepat. Di sisi lain, otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyaring informasi agar tidak terpengaruh oleh berita bohong atau hoaks yang marak di media sosial.
ÔÇ£Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 persen. Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD),ÔÇØ jelas Aji.
Penularan virus mematikan ini terjadi lewat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, ataupun objek yang terkontaminasi oleh manusia dan hewan terinfeksi. Patogen masuk ke tubuh lewat luka kulit maupun selaput lendir secara mendadak dengan masa inkubasi antara 2 hingga 21 hari.
Gejala awal berupa demam, lemas, nyeri otot, dan sakit kepala, yang berpotensi memburuk menjadi muntah, diare, hingga perdarahan hebat. Pengobatan spesifik berskala luas belum tersedia, sementara distribusi vaksin masih terbatas untuk penanganan klaster wabah di kawasan Afrika.
Masyarakat diminta kembali memperkuat implementasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai proteksi mandiri utama.
ÔÇ£Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,ÔÇØ lanjut Aji.
Warga negara yang baru menyelesaikan perjalanan dari RD Kongo atau Uganda diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami demam atau perdarahan dalam kurun waktu 21 hari pascakepulangan.
"Kejujuran mengenai riwayat perjalanan dinilai sangat penting untuk membantu memutus rantai penularan," tukasnya.