Kementerian Kesehatan RI memperketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional di pintu masuk negara sebagai langkah kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi penyebaran virus Ebola. Kewaspadaan masyarakat, terutama yang baru kembali dari negara terdampak seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda, kini ditingkatkan guna mengantisipasi gejala penyakit tersebut.
Langkah preventif di gerbang masuk kepulauan Indonesia ini dilakukan melalui pengamatan visual, pemindaian suhu tubuh menggunakan thermal scanner, serta pengoptimalan aplikasi All Indonesia, seperti yang dilansir dari Detik Health. Warga yang mengalami indikasi medis usai bepergian dari wilayah terjangkit diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan medis.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman memberikan instruksi langsung terkait prosedur penanganan bagi kedatangan internasional yang merasakan gejala klinis.
"Kami mengimbau masyarakat yang baru kembali dari negara terjangkit untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala Ebola seperti demam atau perdarahan hingga 21 hari setelah kepulangan," kata Aji, Minggu (17/5/2026).
Pemerintah Indonesia saat ini terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan kasus Ebola global demi memperkuat sistem pertahanan kesehatan nasional. Antisipasi lanjutan juga diwujudkan melalui penyiapan infrastruktur medis di berbagai daerah.
Kemenkes telah menyiagakan 198 rumah sakit rujukan yang tergabung dalam jaringan layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Selain itu, penguatan surveilans dilakukan pada 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi, dibarengi dengan peningkatan kapasitas laboratorium kesehatan masyarakat.
Sebagai langkah perlindungan mandiri, masyarakat diimbau konsisten menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker saat sakit atau di fasilitas umum, serta rajin mencuci tangan. Interaksi dengan orang maupun hewan yang terinfeksi juga harus dihindari, termasuk memastikan pemenuhan konsumsi daging yang dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar demi menekan risiko penularan.