Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa laporan mengenai pasien yang meninggal dunia akibat hantavirus di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung tidak memiliki keterkaitan dengan kasus kontak erat hantavirus di kapal MV Hondius.
Kepastian tersebut disampaikan oleh pihak berwenang guna meredakan kekhawatiran masyarakat mengenai potensi meluasnya penyebaran jenis virus dari kapal tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Rabu (20/5/2026).
"Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," jelas Andi saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (20/5/2026).
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Andi Saguni memaparkan bahwa kematian di Bandung bukan dipicu oleh Andes virus seperti yang marak dibahas pada kasus MV Hondius. Jenis Andes virus diketahui menyebabkan kondisi klinis Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru serta sistem kardiovaskular dengan tingkat kematian mencapai 60 persen, dan sejauh ini menjadi satu-satunya tipe yang menular antarmanusia.
Sebaliknya, kasus di Bandung dikategorikan sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memicu demam berdarah disertai sindrom ginjal. Tipe klinis HFRS ini mendominasi wilayah Asia serta Eropa, termasuk Indonesia yang telah mendeteksi kasusnya sejak 1991, dengan fatalitas lebih rendah yaitu berkisar antara lima hingga 15 persen.
Informasi mengenai fatalitas hantavirus di Bandung itu sendiri bermula dari kilas balik dalam agenda sosialisasi yang disiarkan secara daring pada Senin (19/5/2026). Perwakilan tim medis mengungkapkan kronologi seorang buruh bangunan yang mengeluhkan demam, nyeri perut kanan, urine pekat, tubuh menguning, nyeri otot, hingga mengalami sesak napas akut setelah dirawat selama tiga hari.
"Sayangnya, saat diedukasi, keluarganya menolak dan pasien meninggal," jelas dr Elisabeth dalam agenda yang disiarkan daring Senin (19/52026).
Dokter spesialis penyakit dalam RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu menambahkan bahwa kondisi pasien yang memburuk tersebut sejatinya memerlukan tindakan medis lanjutan berupa intubasi sebelum akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia.