Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak panik menyusul temuan Hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan tiga orang. Risiko kesehatan masyarakat saat ini dinyatakan masih rendah karena karakteristik virus tersebut berbeda dengan Covid-19.
Dilansir dari Nasional, epidemiolog penyakit menular WHO, Maria van Kerkhove, memberikan penegasan bahwa deteksi virus di kapal pesiar tersebut bukan merupakan awal dari pandemi baru. Penularan virus ini diketahui memerlukan kontak yang sangat dekat dan erat antar-manusia.
"Ini bukan Covid-19, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda," ujar Maria van Kerkhove, Epidemiolog penyakit menular WHO pada Kamis, 7 Mei 2026.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengidentifikasi seorang Warga Negara Asing (WNA) laki-laki berusia 60 tahun di Jakarta Pusat yang sempat berkontak erat dengan penumpang terinfeksi di Ushuaia, Argentina. Indonesia menerima notifikasi resmi terkait kondisi tersebut pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB.
Pemerintah segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengambilan spesimen mulai dari serum, urine, hingga usap tenggorok terhadap WNA tersebut. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan subjek tidak terinfeksi virus yang sedang diwaspadai tersebut.
"Sekali lagi kabar baiknya dari orang asing ini bahwa hasil pemeriksaan PCR-nya itu negatif Hantavirus," ujar Andi Saguni, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes pada Senin, 11 Mei 2026.
Kemenkes tetap melakukan pemantauan berkelanjutan melalui Puskesmas Kecamatan Senen meski pasien saat ini masih berada di RSPI Sulianti Saroso. Proses pemeriksaan laboratorium akan diulang setiap dua minggu untuk memastikan keamanan kesehatan sesuai arahan isolasi dari WHO.
"Koordinasi dilakukan dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat secara reguler, walaupun saat ini pasien masih di RSPI Sulianti Saroso. Kami akan lakukan proses pemeriksaan laboratorium berulang setiap dua minggu," ujar Andi Saguni.
Andi juga memperingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh isu konspirasi yang menyebut Hantavirus sebagai ancaman pandemi buatan untuk kepentingan komersial. Ia menekankan pentingnya pemahaman informasi yang akurat guna menghindari disinformasi di tengah publik.
"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ini dipahami oleh masyarakat. Jangan sampai berita yang disampaikan bersifat hoaks atau disinformasi," kata Andi Saguni.
Pihak kementerian mengklaim bahwa surat edaran teknis yang dikirimkan ke Dinas Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan langkah komunikasi risiko. Tujuannya agar informasi mengenai penanganan medis dapat dipahami dengan baik oleh seluruh jajaran tenaga kesehatan.
"Risiko komunikasi itu penting. Ketika kami mengeluarkan surat edaran ke seluruh Dinkes dan Fasyankes, itu adalah pada tataran teknis," ujar Andi Saguni.
Berdasarkan catatan medis, kasus Hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1991. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan virus tersebut bukan merupakan fenomena baru di tanah air.
"Artinya sudah cukup lama dibandingkan isu-isu yang cenderung timbul belakangan ini," kata Andi Saguni.
Andi menjelaskan terdapat perbedaan tipe antara virus di kapal MV Hondius yang berjenis Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan tipe yang ada di Indonesia. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti penularan tipe HPS di wilayah Indonesia baik pada manusia maupun hewan pengerat.
"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," kata Andi Saguni.
Penularan tipe HPS yang ditemukan di Amerika Selatan melibatkan strain Andes virus yang dapat menular antar-manusia melalui kontak erat berkepanjangan. Sebaliknya, tipe HFRS yang umum ditemukan di Asia dan Indonesia belum terbukti memiliki kemampuan penularan antar-manusia.
"Saya sampaikan bahwa untuk tipe HRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," jelas Andi Saguni.
Faktor risiko utama penularan Hantavirus di Indonesia adalah kontak dengan tikus atau celurut melalui gigitan serta cairan ekskresi yang terkontaminasi. Kelompok masyarakat yang bekerja di area berisiko seperti petugas sampah, petani, dan warga di daerah banjir diminta lebih waspada.
"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ucap Andi Saguni.
Kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam memutus rantai infeksi yang bersumber dari populasi tikus di pemukiman. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kontak dengan air yang tercemar saat terjadi genangan atau banjir.
"Jadi, kebersihan lingkungan itu sangat terkait dengan adanya sekresi atau ekskresi dari tikus karena tikusnya ada," ujar Andi Saguni.
Kemenkes mengingatkan agar warga tidak bermain di air banjir untuk menghindari paparan berbagai penyakit menular. Kebiasaan menganggap air banjir sebagai tempat bermain dapat meningkatkan risiko terjangkit Hantavirus secara tidak disadari.
"Jangan sampai pas banjir masyarakat malah main-main air banjir kayak kolam renang raksasa, padahal itu berisiko terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah Hantavirus tersebut," ucap Andi Saguni.