Kementerian Kesehatan melaporkan temuan 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir hingga Jumat (8/5/2026). Seluruh pasien terkonfirmasi mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome atau demam berdarah dengan sindrom ginjal.
Dilansir dari Detik Health, infeksi virus ini umumnya menunjukkan gejala dalam waktu satu hingga dua minggu setelah terpapar. Meskipun tergolong serius, manifestasi klinis Seoul Virus dinilai cenderung lebih ringan jika dibandingkan dengan Andes Virus yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius.
"Mereka gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning," demikian konfirmasi Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Aji Muhawarman kepada detikcom Jumat (8/5/2026).
Pemerintah merinci bahwa mayoritas pasien, yakni sebanyak 20 orang, telah dinyatakan sembuh total dan kembali beraktivitas. Namun, terdapat tiga kasus kematian yang tercatat memiliki riwayat koinfeksi penyakit berat lainnya.
Kondisi penyerta pada pasien meninggal tersebut meliputi kanker hati hingga kegagalan multiorgan. Aji Muhawarman menjelaskan bahwa penularan terjadi melalui perantara hewan reservoir, seperti tikus dan celurut yang sudah terinfeksi virus tersebut.
Masyarakat dapat tertular melalui kontak langsung dengan urine, air liur, dan feses hewan, atau tidak sengaja menghirup debu yang terkontaminasi. Selain itu, gigitan hewan pengerat juga menjadi jalur transmisi yang diwaspadai di area populasi tikus tinggi.
Meskipun penularan antarmanusia dapat terjadi pada tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), Kemenkes menegaskan varian tersebut memiliki karakteristik sebaran wilayah yang berbeda. Tipe HPS yang memicu sesak napas dengan angka kematian mencapai 60 persen tersebut lebih banyak mewabah di kawasan Amerika Selatan.