Kemenkes Sebut Kesadaran Masyarakat Rendah Hambat Kendali Hipertensi

Kemenkes Sebut Kesadaran Masyarakat Rendah Hambat Kendali Hipertensi
Foto: Ilustrasi Kemenkes Sebut Kesadaran Masyarakat Rendah Hambat Kendali Hipertensi.

Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa keengganan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin akibat rasa takut menjadi hambatan besar dalam upaya pengendalian penyakit hipertensi di Indonesia.

Kondisi tersebut memicu peningkatan kasus yang signifikan dalam satu dekade terakhir berdasarkan data yang dilansir dari Media Indonesia pada Minggu (17/5/2026).

"Padahal, hipertensi tidak bisa dianggap sepele karena dapat memicu berbagai komplikasi serius jika tidak dikontrol secara rutin," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi.

Siti Nadia Tarmizi menjelaskan tren penyakit ini terus melonjak sejak 2009 yang berada di angka 18 persen hingga mencapai kisaran 30 persen pada masa kini.

ÔÇ£Dari 2009 sampai 2023, tren hipertensi meningkat. Pada 2009 angkanya sekitar 18%, sekarang mencapai sekitar 30%,ÔÇØ ujarnya.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia terbaru menunjukkan lonjakan kasus yang menempatkan tekanan darah tinggi sebagai penyakit dengan beban tertinggi.

ÔÇ£Artinya, sekitar 50 hingga 60 juta penduduk Indonesia menderita tekanan darah tinggi,ÔÇØ kata Siti Nadia Tarmizi.

Guna mengatasi tingginya prevalensi tersebut, pemerintah menginisiasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak 10 Februari 2025 dengan menyediakan 18 jenis pemeriksaan dini.

"Dari hasil CKG tahun lalu atas sekitar 70 juta masyarakat Indonesia, ditemukan sekitar 15 juta orang mengalami hipertensi," ucap Siti Nadia Tarmizi.

Faktor gaya hidup sedentari serta kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar garam dan lemak yang tinggi dituding menjadi pemicu utama di masyarakat.

"Konsumsi garam berlebih, makanan asin, gorengan, hingga pola hidup dengan aktivitas fisik rendah atau sedentari jadi pemicu," ujarnya.

Pihak kementerian mengimbau masyarakat untuk segera memperbaiki pola makan serta menghentikan kebiasaan merokok demi mencegah risiko penyakit tersebut.

Kerja sama lintas sektor kini didorong untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan di luar ruang praktik dokter.

"Dalam menjalankan program edukasi dan kampanye kesehatan, InaSH juga menggandeng berbagai pihak, termasuk industri farmasi serta komunitas masyarakat," tutur Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) Eka Harmeiwaty.

Langkah edukasi ini turut didukung oleh pihak industri farmasi melalui penyediaan perangkat medis mandiri sebagai momentum Hari Hipertensi Sedunia yang diperingati setiap 17 Mei.

ÔÇ£Banyak orang tak menyadari dirinya mengalami hipertensi dan akhirnya muncul komplikasi serius," kata Managing Director Beurer Indonesia Aria Verdin.

Pihaknya memproduksi alat pengukur tekanan darah digital tipe BM 23, BM 26, dan BM 96 guna mempermudah pemantauan kesehatan secara berkala di rumah.

"Kami harap dengan alat pengukur tekanan darah digital itu, masyarakat dapat menggunakannnya secara mudah di rumah kapan saja, sebagai bentuk cek rutin penyakit hipertensi,ÔÇØ kata Aria Verdin.

Artikel terkait

Rekomendasi