Kemenkes Catat 23 Kasus Seoul Hantavirus di Sembilan Provinsi

Kemenkes Catat 23 Kasus Seoul Hantavirus di Sembilan Provinsi
Foto: Ilustrasi Kemenkes Catat 23 Kasus Seoul Hantavirus di Sembilan Provinsi.

Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi temuan 23 kasus hantavirus jenis seoul virus di sembilan provinsi Indonesia dalam tiga tahun terakhir hingga Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Detik Health, penyebaran virus ini berkaitan erat dengan aktivitas yang melibatkan kontak langsung dengan tikus sebagai sumber infeksi utama.

Data kementerian menunjukkan bahwa dari total 23 pasien yang terinfeksi, sebanyak 20 orang dinyatakan sembuh dan tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Sejauh ini, otoritas kesehatan memastikan belum ada temuan kasus penularan antarmanusia untuk jenis seoul virus di wilayah Indonesia.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa sejumlah hobi luar ruangan seperti mendaki gunung dan berkemah memiliki risiko penularan yang tinggi.

"Kontak dengan sumber infeksi, yang berkaitan dengan hobi olahraga atau wisata seperti mendaki gunung, berkemah, dan lain-lain," kata Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI.

Risiko paparan tersebut meningkat apabila individu berada di lokasi yang tercemar oleh sisa pembuangan hewan pengerat. Hal ini mencakup area yang memungkinkan terjadinya kontak fisik maupun pernapasan melalui debu yang terkontaminasi.

"Risiko paparan meningkat ketika seseorang berada di area yang memungkinkan kontak dengan urine, feses, air liur, maupun debu yang telah terkontaminasi virus dari tikus," jelas Aji.

Selain pelaku wisata alam, beberapa kategori pekerja juga dinilai rentan terhadap ancaman virus ini. Kelompok tersebut meliputi petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, hingga staf laboratorium yang menangani reservoir.

"Mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja lab yang menangani reservoir," ujar Aji.

Aji memaparkan bahwa mekanisme masuknya virus ke tubuh manusia dapat melalui berbagai jalur akses fisik. Jalur tersebut meliputi luka terbuka maupun kontaminasi pada saluran pernapasan.

"Penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi," katanya.

Mengenai data fatalitas, Kemenkes mencatat angka kematian atau case fatality rate (CFR) untuk jenis seoul virus mencapai sekitar 13 persen. Pada tahun 2026 saja, tercatat adanya penambahan lima kasus baru.

"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," ungkap Aji.

Pihak kementerian menggarisbawahi bahwa tingkat kematian yang cukup tinggi tersebut sering kali dipengaruhi oleh kondisi kesehatan penyerta pada pasien. Komplikasi organ menjadi faktor krusial dalam kasus kematian yang terjadi.

"Tingkat kematian relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan," jelasnya.

Hingga saat ini, ancaman hantavirus jenis andes yang dapat menular antarmanusia seperti yang terjadi pada wabah kapal pesiar MV Hondius dinilai masih sangat rendah untuk masuk ke Indonesia.

"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," tutur Aji.

Sebaran kasus seoul hantavirus di Indonesia tercatat paling banyak berada di wilayah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dengan rincian sebagai berikut.

Sebaran Kasus Seoul Hantavirus di Indonesia
ProvinsiJumlah Kasus
Sumatera Barat1 kasus
Banten1 kasus
DKI Jakarta6 kasus
Jawa Barat5 kasus
Jawa Timur1 kasus
DI Yogyakarta6 kasus
NTT1 kasus
Kalimantan Barat1 kasus
Sulawesi Utara1 kasus

Artikel terkait

Rekomendasi