Kemenkes Imbau Warga Tidak Panik Hadapi Kasus Hantavirus

Kemenkes Imbau Warga Tidak Panik Hadapi Kasus Hantavirus
Foto: Ilustrasi Kemenkes Imbau Warga Tidak Panik Hadapi Kasus Hantavirus.

Masyarakat diminta untuk tidak panik dalam menghadapi kasus hantavirus yang saat ini sedang menghangat. Meskipun obat dan vaksinnya belum ditemukan, tingkat kesembuhan dari penyakit ini tergolong sangat tinggi yaitu berkisar antara 87% hingga 100%.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Kerja nonKJSU Direktorat Layanan Klinis Kementerian Kesehatan, Indri Astuti Utami, dalam sebuah acara sosialisasi. Seperti dilansir dari Media Indonesia, sosialisasi penanganan hantavirus tersebut diselenggarakan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Senin (18/5).

Dalam pemaparannya, Indri menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu cemas berlebihan mengenai penyebaran virus tersebut.

"Tidak perlu panik, tapi tetap waspada, sehingga penyakit ini tidak menyebar luas di Indonesia," katanya.

Faktor geografis Indonesia serta tingginya mobilitas masyarakat dinilai sangat memungkinkan menjadi jalur penyebaran virus. Risiko ini semakin meningkat karena terdapat banyak pintu masuk antarnegara yang bisa menjadi jalur importasi kasus hantavirus.

Mengantisipasi hal itu, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran resmi kepada setiap fasilitas kesehatan. Seluruh rumah sakit kini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Indri mencontohkan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selaku salah satu rumah sakit pengampu di wilayah Jawa Barat. RSHS diwajibkan melakukan koordinasi intensif dengan jajaran rumah sakit di bawah pengampuannya.

"RSHS sebagai rumah sakit pengampu regional di Jawa Barat dapat terus memberlakukan pembinaan ke rumah sakit yang diampu, dalam bentuk sharing knowledge, diskusi tentang apapun jika ada rumah sakit ampuan yang menemukan kasus hantavirus," katanya.

Kewaspadaan ini menjadi sangat penting mengingat Jawa Barat memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Sebanyak 18% dari total populasi penduduk Indonesia berada di wilayah Jawa Barat dengan mobilitas yang dinamis serta karakteristik wilayah yang beragam.

"Rumah sakit sebagai garda terdepan harus punya peran srategis dalam mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan," katanya.

Fasilitas pelayanan kesehatan dituntut memiliki kesiapan yang matang dalam menghadapi potensi penyebaran virus ini. Manajemen rumah sakit wajib menyiapkan sarana, prasarana, sumber daya manusia (SDM), alat kesehatan, hingga sistem pelaporan kasus yang cepat.

Kesiapan penanganan hantavirus saat ini dinilai jauh lebih matang. Direktur Utama RSPI Prof Soelianti Saroso, Harli Amir Mahmuju, menjelaskan bahwa kasus hantavirus sebenarnya sudah mulai terdeteksi di Indonesia sejak tahun 2024.

Berdasarkan data medis yang ada, tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus telah terkonfirmasi di Indonesia. Dari jumlah keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 20 orang pasien di antaranya telah dinyatakan sembuh total.

Sebaran kasus hantavirus ini tercatat di beberapa wilayah Indonesia. Di wilayah Jawa Barat ditemukan sebanyak 5 kasus penyebaran, sementara di Provinsi Yogyakarta terdeteksi sebanyak 6 kasus.

Harli menyatakan rasa optimistisnya bahwa seluruh perangkat kesehatan di dalam negeri saat ini sudah jauh lebih siap. Kondisi ini dinilai berbeda dan mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan saat menghadapi pandemi virus corona beberapa waktu yang lalu.

"Kami sudah meningkatkan kewaspadaan. Dulu saat covid masih banyak percobaan, sekarang sudah lebih siap," tandasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi