Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa sebaran Hantavirus yang terdeteksi pada penumpang kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan ancaman pandemi baru. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tiga orang meninggal dunia dari lima kasus terkonfirmasi setelah melakukan perjalanan ke wilayah Amerika Selatan.
Dilansir dari Nasional, kasus kematian tersebut melibatkan pasangan suami istri yang sempat melakukan riset burung di Argentina, Chile, dan Uruguay. Wilayah tersebut diketahui berkaitan dengan Hantavirus strain Andes yang memiliki karakteristik unik dalam pola penyebarannya di lingkungan medis.
Strain Andes merupakan satu-satunya varian virus yang memiliki kemampuan untuk menular antarmanusia melalui kontak fisik yang sangat erat. Merespons temuan di MV Hondius, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura segera memberlakukan prosedur isolasi ketat bagi warga negaranya yang berada di kapal tersebut.
Kekhawatiran mengenai potensi pandemi juga muncul di kalangan masyarakat Indonesia akibat informasi yang beredar di media sosial. Syafa (18), seorang mahasiswa, mengaku merasa cemas setelah melihat berbagai unggahan visual mengenai penyebaran virus tersebut yang menyerupai situasi awal wabah global sebelumnya.
"Banyak yang menyebarkan informasinya dari TikTok, Instagram, X. Katanya ada Hantavirus baru dan bisa jadi pandemi. Kayak ngeri-ngeri kejadian kayak pandemi Covid-19 keulang lagi gitu, loh," kata Syafa, Mahasiswa.
Keresahan serupa dirasakan oleh Rizka (22) yang memiliki pengalaman traumatis terkait prosedur kesehatan ketat selama masa karantina di tahun 2020. Ia mengkhawatirkan dampak psikologis dan sosial jika pembatasan mobilitas kembali diberlakukan akibat narasi yang berkembang di ruang digital.
"Sebelum pertukaran pelajar pun di rumah berbulan-bulan, stres juga rasanya. Takut terulang lagi atau lebih parah gara-gara konten di media sosial," jelas Rizka, Mahasiswa.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai respons ketakutan publik saat ini dipicu oleh trauma sosial pascapandemi Covid-19. Kelelahan psikologis dan banjirnya misinformasi membuat masyarakat lebih skeptis terhadap laporan kemunculan wabah baru di berbagai belahan dunia.
"Jadi, selama Covid-19 masyarakat mengalami ketakutan, pembatasan sosial, tekanan ekonomi juga banjir informasi. Akibatnya muncul kelelahan psikologis terhadap isu wabah baru," kata Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.
Dicky menyoroti adanya inkonsistensi komunikasi risiko dan polarisasi sosial yang menyebabkan isu kesehatan sering kali dipandang dari sudut pandang politik atau ekonomi. Hal ini memicu munculnya teori konspirasi yang mengaitkan wabah dengan kepentingan industri farmasi tertentu.
"Ketiga, inkonsistensi komunikasi risiko. Jadi di banyak negara termasuk global masyarakat itu melihat perubahan kebijakan cepat, perbedaan pendapat ahli dan politisasi kesehatan, ini yang menurunkan trust terhadap institusi," beber Dicky Budiman.
Ia menekankan bahwa ketidakpastian ilmiah adalah hal yang normal pada fase awal outbreak dan tidak selalu merupakan rekayasa bisnis. Pada kasus Hantavirus, belum ada vaksin global yang digunakan secara luas sehingga narasi penjualan vaksin tidak relevan dengan kondisi lapangan.
"Dan banyak juga netizen yang mengaitkan isu wabah dengan kepentingan bisnis vaksin atau obat. Kita harus lihatnya objektif dan proporsional, ya. Benar bahwa industri farmasi adalah industri besar, dia juga mencari keuntungan. Tapi tidak berarti setiap outbreak adalah rekayasa bisnis, karena dalam kasus Hantavirus misalnya, bahkan belum ada vaksin global yang digunakan luas," kata Dicky Budiman.
Penanganan medis untuk pasien Hantavirus saat ini masih sangat terbatas dan bergantung pada perawatan suportif di ruang ICU. Dicky mendorong pemerintah untuk mengedepankan transparansi data guna membangun kembali kepercayaan publik melalui komunikasi ilmiah yang terbuka dan jujur.
"Terapi spesifik juga sangat terbatas, penanganan utama juga masih supportive care ICU. Jadi narasi wabah dibuat untuk jual vaksin, tidak sesuai dengan kasus Hantavirus saat ini," imbuh Dicky Budiman.
Pemerintah disarankan melakukan pengawasan independen dan penyebaran informasi yang tidak hanya mengandalkan otoritas formal semata. Keterbukaan informasi dinilai sebagai kunci utama untuk meredam kepanikan massal di tengah masyarakat.
"Sebetulnya perlu dibangun oleh pemerintah transparansi data, komunikasi ilmiah terbuka dan pengawasan independen, karena trust publik dibangun dari keterbukaan, bukan sekadar otoritas," jelas Dicky Budiman.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan pihaknya telah merilis Surat Edaran kepada Dinas Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Langkah ini diambil untuk memastikan komunikasi risiko mengenai Hantavirus dapat tersampaikan dengan tepat kepada masyarakat luas.
"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ini dipahami oleh masyarakat. Jangan sampai berita yang disampaikan bersifat hoaks atau disinformasi," kata Andi Saguni, Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Secara epidemiologis, Hantavirus belum memenuhi kriteria pandemi karena penularan antarmanusia yang sangat terbatas meski bersifat patogen. Dicky menjelaskan bahwa dari puluhan jenis virus yang ada, mayoritas tidak menyebabkan penyakit pada manusia.
"Alhamdulillah, memang belum memenuhi kriteria yang paling penting ini, meskipun ada strain Andes dari Hantavirus ini, yang bisa menyebabkan penularan antarmanusia tapi relatif terbatas," kata Dicky Budiman.
Kementerian Kesehatan menghimbau warga untuk tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi resmi pada Senin pekan ini melalui kanal-kanal pemerintah. Evaluasi terhadap risiko kesehatan masyarakat menunjukkan level ancaman masih tergolong rendah di tingkat global.