Kemenkes Deteksi 663 Ribu Anak Indonesia Alami Hipertensi Dini

Kemenkes Deteksi 663 Ribu Anak Indonesia Alami Hipertensi Dini
Foto: Ilustrasi Kemenkes Deteksi 663 Ribu Anak Indonesia Alami Hipertensi Dini.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia merilis data terbaru mengenai kondisi kesehatan generasi muda yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 663 ribu anak di Indonesia terdeteksi mengalami lonjakan tekanan darah atau indikasi hipertensi dini.

Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua dan pendidik. Masalah tekanan darah tinggi yang biasanya identik dengan penyakit usia tua kini mulai menyerang anak-anak serta remaja.

Kondisi ini berisiko memicu komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Dampak jangka panjangnya dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga stroke di usia produktif.

Lonjakan tekanan darah ini ditemukan pada kelompok usia sekolah antara 6 sampai 18 tahun. Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil skrining kesehatan nasional yang dilakukan hingga pertengahan tahun 2026.

Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran pola Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia. Penyakit tersebut kini mulai menyasar kelompok usia yang jauh lebih muda.

Terdapat tiga faktor pemicu utama hipertensi pada anak:

  • Konsumsi GGL Berlebih: Tingginya asupan Gula, Garam, dan Lemak dari makanan olahan dan minuman berpemanis.
  • Kurangnya Aktivitas Fisik: Gaya hidup sedenter akibat penggunaan gadget yang berlebihan.
  • Gangguan Pola Tidur: Kurang istirahat yang berdampak pada ketidakseimbangan metabolisme tubuh.

Langkah Pencegahan Melalui Rumus CERDIK

Merespons data ini, Kemenkes menginstruksikan penguatan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk melakukan skrining tekanan darah secara berkala. Selain itu, orang tua diminta menerapkan pola hidup sehat di lingkungan keluarga dengan rumus CERDIK.

Rumus CERDIK tersebut terdiri dari langkah-langkah berikut:

  • C ek kesehatan secara rutin.
  • E nyahkan asap rokok.
  • R ajin aktivitas fisik.
  • D iet seimbang (batasi garam dan gula).
  • I stirahat cukup.
  • K elola stres.

Pemerintah juga tengah mengkaji kebijakan label gizi yang lebih ketat pada produk pangan olahan. Langkah ini dilakukan untuk membantu masyarakat memilih asupan yang lebih sehat bagi anak-anak demi mencegah ancaman hipertensi sejak dini.

Dokter spesialis jantung dr. Yovi Kurniawati menjelaskan perbedaan penyebab hipertensi anak dan dewasa serta data terbaru Kemenkes terkait kesehatan anak.

Di sisi lain, tantangan pengendalian penyakit ini masih cukup besar di masyarakat. Survei Kesehatan Indonesia terbaru menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31% akibat kesadaran masyarakat yang masih rendah.

Artikel terkait

Rekomendasi