Kemenkes Deteksi 23 Kasus Hantavirus Varian Seoul di Indonesia

Kemenkes Deteksi 23 Kasus Hantavirus Varian Seoul di Indonesia
Foto: Ilustrasi Kemenkes Deteksi 23 Kasus Hantavirus Varian Seoul di Indonesia.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 orang terkonfirmasi positif Hantavirus varian Seoul di sembilan provinsi Indonesia sepanjang tahun 2024 hingga 2026. Data ini muncul menyusul laporan kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi varian Andes yang memicu perhatian global.

Dilansir dari Nasional, persebaran kasus di dalam negeri mencakup DKI Jakarta dan DIY masing-masing enam kasus, Jawa Barat lima kasus, serta sebaran satu kasus di wilayah lainnya. Infeksi ini bersumber dari hewan pengerat, terutama tikus cokelat yang membawa virus penyebab gangguan ginjal.

Pakar Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menjelaskan bahwa infeksi pada kapal pesiar MV Hondius diduga berasal dari perjalanan lintas negara di Amerika Selatan. Ia menegaskan standar kebersihan kapal berbendera Belanda tersebut sangat ketat terhadap keberadaan tikus.

ÔÇ£Ini diperkirakan masuknya dari situ. Jangan lupa tidak ada tikus di kapal Hondius, karena dia kapal berbendera Belanda, jadi sesuai standar Eropa dan Amerika, enggak boleh ada tikus di kapal. Jadi di Hondius enggak ada tikus,ÔÇØ kata Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Dominicus menyatakan masyarakat tidak perlu memberikan reaksi cemas yang berlebihan karena virus ini bukan merupakan jenis baru di dunia medis. Penegasan ini didasari pada fakta bahwa Indonesia telah memantau keberadaan virus tersebut selama lebih dari satu dekade.

ÔÇ£Kita enggak setakut itulah dengan Hanta ini, tetapi memang jangan sampai lengah. Virus Hanta adalah sesuatu yang kita sudah kenal cukup lama. Bukan virus baru, bukan virus baru. Biasanya dibawa oleh hewan pengerat, rodents. Yang paling sering itu tikus,ÔÇØ ujar Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Perbedaan signifikan terletak pada jenis varian yang ditemukan di Indonesia dengan varian Andes yang menyerang penumpang kapal pesiar. Varian Andes diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia melalui kontak erat, seperti yang pernah terjadi di Argentina pada periode sebelumnya.

ÔÇ£Betapa berat Andes ini, tahun 2018-2019 itu pernah ada tiga orang yang kontak dengan tikus kemudian menyebarkan ke 34 orang lain dan dari 34 ini, sepertiganya (11 orang) meninggal, ya. Ini yang terjadi waktu itu di Argentina,ÔÇØ ujar Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Sementara itu, varian Seoul yang umum di Eropa dan Asia biasanya bermanifestasi sebagai demam berdarah yang memicu sindrom ginjal. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti adanya transmisi dari manusia ke manusia untuk varian yang ada di Indonesia.

ÔÇ£Yang di Eropa dan Asia itu seringkali adalah demam perdarahan, yang akhirnya nanti menjadi HFRS. Di Eropa-Asia ini kita belum menemukan penularan dari orang ke orang. Semuanya dari tikus,ÔÇØ ujar Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Dominicus menambahkan bahwa varian Andes yang sangat berbahaya tersebut belum pernah terdeteksi masuk ke wilayah hukum Indonesia. Hal ini memastikan pola penularan di tanah air masih bersifat murni dari hewan ke manusia.

ÔÇ£ Jadi di Indonesia itu penularannya murni terjadi dari tikus,ÔÇØ ucap Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

WHO melalui epidemiolog Maria van Kerkhove menegaskan bahwa karakteristik Hantavirus tidak bisa disamakan dengan pandemi Covid-19. Risiko kesehatan masyarakat secara global dinilai masih rendah karena mekanisme penyebarannya yang sangat spesifik dan memerlukan kontak sangat dekat.

ÔÇ£Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda,ÔÇØ ujar Maria van Kerkhove, Epidemiolog penyakit menular WHO.

Dominicus membandingkan tingkat mutasi virus ini dengan virus lainnya yang jauh lebih masif dan cepat berubah. Ia menyebutkan bahwa durasi dari paparan hingga munculnya gejala awal bisa memakan waktu hingga dua bulan.

ÔÇ£SARS-CoV-2 lebih lebih mutasi dari Hantavirus. Influenza sepuluh kali lebih dari SARS-CoV-2. Tetapi raja mutasi adalah HIV, seratus kali SARS-CoV-2,ÔÇØ kata Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kondisi medis yang diakibatkan bisa memburuk dengan cepat menjadi sesak napas akut atau kegagalan organ tergantung pada jenis varian virusnya. Kerusakan paru-paru dan penurunan tekanan darah secara drastis menjadi penyebab utama kematian pada pasien terinfeksi.

ÔÇ£Bisa dengan cepat seperti kasus ini menjadi sulit bernapas, karena kemudian paru-parunya terkena, lalu tekanan darah mengalami gangguan sehingga terus turun, dan itu biasanya nanti menyebabkan kematian,ÔÇØ sebut Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Karena belum tersedianya vaksin, langkah pencegahan utama dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dari kotoran tikus menggunakan disinfektan. Penggunaan metode pembersihan yang tepat sangat disarankan untuk menghindari partikel virus beterbangan di udara.

ÔÇ£Membersihkan kotoran dan kencing tikus itu yang disarankan bukan disapu. Yang disarankan itu adalah pakai disinfektan, apapunlah yang ada di pasaran itu bisa dipakai. Tentu lebih baik kalau rumahnya bebas tikus,ÔÇØ ujar Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Skrining di pelabuhan dan bandara terhadap pelancong dari Amerika Selatan dapat menjadi opsi deteksi dini varian Andes. Namun, otoritas kesehatan diingatkan untuk tetap memprioritaskan penanganan penyakit menular lain yang memiliki beban risiko lebih besar.

ÔÇ£Kita enggak perlu takut juga dan kita tidak perlu mengeluarkan begitu banyak sumber daya terhadap sesuatu yang risikonya bagi kita itu sebetulnya tidak sangat besar,ÔÇØ kata Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai sebagai cara paling ekonomis untuk menekan risiko penularan berbagai penyakit infeksi. Kedisiplinan dalam mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri tetap menjadi fondasi utama dalam upaya promotif preventif.

ÔÇ£Perilaku hidup bersih dan sehat, tidak ada keragu-raguan dalam kondisi apapun terhadap penyakit apapun, sebagian besar, sudah efektif untuk mencegah, minimal menurunkan risiko walaupun mungkin enggak nol,ÔÇØ tandas Dominicus Husada, Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menambahkan pentingnya edukasi PHBS secara berkelanjutan kepada seluruh lapisan masyarakat. Langkah sederhana ini dianggap sebagai bagian integral dari strategi perlindungan kesehatan anak dan keluarga.

ÔÇ£Upaya sederhana ini yang termasuk bagian dari promotif preventif saya kira,ÔÇØ kata Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum PP IDAI.

Artikel terkait

Rekomendasi