Kementerian Perhubungan berkomitmen mendorong pengembangan sistem transportasi publik yang bersih, cerdas, terintegrasi, dan berkelanjutan demi mendukung mobilitas di kawasan ASEAN. Penguatan sistem transportasi massal nasional ini diwujudkan melalui proyek Bus Rapid Transit atau BRT.
Dilansir dari Otomotif, Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Muiz Thohir memastikan komitmen tersebut untuk menghadirkan layanan publik yang andal. Infrastruktur ini dikembangkan bersama World Bank di wilayah Cekungan Bandung atau BRT Bandung Basin Metropolitan Area dan BRT Mebidang di Sumatra Utara.
Transformasi angkutan massal di berbagai kota kawasan ASEAN sangat bergantung pada sistem bus yang efisien serta inklusif. Moda ini dinilai strategis dalam menopang konektivitas harian masyarakat serta memiliki fleksibilitas pengembangan yang tinggi untuk skala perkotaan maupun regional.
"Untuk itu, kami berkomitmen terus mendorong pengembangan sistem transportasi publik yang berorientasi pada pelayanan masyarakat,ÔÇØ jelas Muiz.
Pemerintah pusat kini tengah memperluas sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, mitra pembangunan, hingga operator transportasi. Langkah nyata penjajakan ini dilakukan untuk memastikan operasional angkutan massal dapat berjalan optimal di wilayah percontohan.
ÔÇ£Saat ini kami bekerja sama dengan World Bank untuk mengembangkan pilot project BRT Sumatra Utara dan BRT Bandung dengan dedicated lane, halte, termasuk pengembangan ITS untuk mendukung operasional,ÔÇØ kata Muiz.
Realisasi proyek ini juga ditandai dengan langkah Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin yang mengganti nama BRT menjadi Metro Jabar Trans atau MJT pada Selasa, 31 Desember 2024 di Gedung Sate, Kota Bandung. Perubahan nama tersebut dilakukan demi mendukung hadirnya konektivitas terintegrasi di Bandung Raya.
"Pemerintah pusat akan membangun infrastruktur BRT, sedangkan penyediaan sarananya, termasuk bus listrik, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Jadi, itu bentuk kolaborasi dan komitmen bersama,ÔÇØ ujarnya.
Sinergi pengelolaan anggaran dan fasilitas ini diharapkan mampu memicu pengalihan moda transportasi pribadi ke angkutan umum secara massal. Penyediaan bus listrik menjadi bagian dari pemenuhan target pengurangan emisi karbon di sektor transportasi darat.
"Apabila kita ingin kota yang lebih bersih, maka diperlukan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan. Jika ingin mobilitas yang lebih efisien, diperlukan sistem transportasi yang lebih cerdas. Bila menginginkan perjalanan yang semakin terhubung dan seamless, diperlukan konektivitas yang semakin kuat antarmoda dan antarwilayah yang dapat diwujudkan dengan kolaborasi,ÔÇØ kata Muiz.