Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperketat pengawasan dan persiapan fasilitas menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Langkah ini diambil guna menjamin keamanan serta kenyamanan para jemaah selama berada di tanah suci.
Seperti dikutip dari Cahaya, pemerintah menerapkan sistem penataan terpusat untuk penempatan jemaah di dalam tenda-tenda di Arafah dan Mina. Melalui kebijakan ini, Kemenhaj melarang keras Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) memasang penanda atau identitas mandiri pada tenda Armuzna.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menjelaskan bahwa otoritas telah mengatur seluruh pembagian area tenda jemaah sebagai bagian dari rencana operasional fase puncak.
"Petugas akan mencabut identitas KBIHU yang terpasang dan akan memberikan sanksi bagi yang melakukannya," katanya dalam konferensi pers di Makkah, Arab Saudi, Kamis (21/5/2026).
Kemenhaj terus mematangkan koordinasi dengan pihak otoritas Arab Saudi, PPIH Arab Saudi, hingga petugas kloter dan sektor di lapangan. Fokus penguatan mencakup aspek transportasi, konsumsi, kesehatan, perlindungan, serta penempatan jemaah.
"Kami ingin memastikan jemaah mendapatkan layanan yang tertib, aman, dan nyaman, serta dapat menjalankan rangkaian ibadah puncak haji dengan khusyuk," kata Ichsan.
Menurut Ichsan, fase Armuzna merupakan tahapan paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji sehingga seluruh skema layanan disiapkan secara bertahap dan terukur dengan mengutamakan keselamatan jemaah.
Imbauan Menjaga Kondisi Fisik
Jemaah haji diimbau untuk membatasi aktivitas fisik yang berat atau bepergian jauh sebelum waktu puncak haji tiba. Hal ini bertujuan agar kondisi kesehatan jemaah tetap prima saat menghadapi rangkaian ibadah yang padat.
Ichsan meminta jemaah mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi rangkaian ibadah di Armuzna dengan menjaga pola hidup sehat.
"Kurangi aktivitas yang tidak mendesak, perbanyak istirahat, jaga pola makan, minum air yang cukup, serta ikuti arahan petugas kloter, pembimbing ibadah, dan petugas sektor," katanya.
Data Kedatangan Jemaah di Arab Saudi
Berdasarkan data operasional hingga 20 Mei 2026, tercatat sebanyak 513 kloter yang membawa 197.876 jemaah beserta 2.044 petugas telah bertolak menuju Tanah Suci.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 237 kloter dengan total 90.691 jemaah dan 945 petugas mendarat melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Sementara jemaah yang sudah memasuki kota Makkah mencapai 502 kloter, yang terdiri atas 193.593 jemaah dan 2.008 petugas. Di samping itu, sebanyak 15.418 jemaah haji khusus juga dilaporkan telah mendarat di Arab Saudi.
Peningkatan Solidaritas Antar-Jemaah
Kemenhaj juga menekankan pentingnya sikap saling peduli antar-jemaah dan petugas, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan gangguan kesehatan.
"Kami mengimbau jemaah dan petugas untuk saling memperhatikan. Sapa dan tanya jemaah yang berjalan atau keluar sendirian."
"Jika tujuannya tidak jelas, antarkan dan laporkan kepada petugas terdekat. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian dapat mengurangi kemungkinan jemaah hilang atau terpisah dari rombongannya," ujar Ichsan.
Pihak Kemenhaj turut mengajak masyarakat di Indonesia untuk bersama-sama mendoakan kelancaran seluruh prosesi ibadah haji, terutama saat memasuki fase krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.